EDITOR: RITA AMALISA
Ada kalanya hidup mengajak kita berhenti sejenak. Hening. Menengok ke dalam. Bukan untuk lari dari dunia, tetapi untuk memahami arah langkah kita.
Kisah Santo Yohanes Klimakus memberi gambaran tentang perjalanan batin yang tidak instan. Ia memilih menjauh dari keramaian sejak muda, hidup dalam kesederhanaan, disiplin, dan keheningan panjang.
Kisah hidup Santo Yohanes Klimakus menghadirkan gambaran tentang pendakian batin yang tidak tergesa. Sejak muda, ia meninggalkan hiruk-pikuk dunia, memilih kesunyian di Gunung Sinai. Dalam doa, keheningan, dan disiplin rohani, ia menapaki langkah demi langkah menuju kedewasaan iman.
Melalui karyanya, Tangga Menuju Surga, ia mengajarkan bahwa kekudusan bukanlah lompatan besar yang tiba-tiba, melainkan perjalanan panjang—tiga puluh langkah yang harus dilalui dengan kesetiaan. Setiap langkah adalah perjuangan: melawan ego, kesombongan, dan kelekatan duniawi. Sebuah pendakian yang sunyi, namun penuh makna.
Santo Leonardus Murialdo (1828–1900) adalah imam Katolik Italia yang dikenal sebagai pendidik dan pembaharu sosial abad ke-19.
Beliau mendirikan Kongregasi Santo Yosef (Giuseppini del Murialdo) dan menjadi pelopor gerakan sosial Katolik di masa industrialisasi Italia. Gereja Katolik mengenalnya sebagai pelindung kaum muda pekerja. Hidupnya dinyatakan Kudus, suci…
Dari sana lahir pemahaman sederhana namun dalam: bahwa pertumbuhan diri tidak terjadi sekaligus. Ia adalah proses bertahap—pelan, kadang berat, penuh jatuh bangun. Seperti menaiki tangga, satu demi satu, dengan kesabaran dan kesadaran.
Namun hidup tidak selalu meminta kita untuk diam. Di tempat dan zaman yang berbeda, Santo Leonardus Murialdo justru menemukan makna hidup di tengah hiruk-pikuk persoalan sosial. Ia hidup di masa ketika banyak anak muda kehilangan arah karena tekanan ekonomi dan kerasnya kehidupan.
Alih-alih menjauh, ia memilih hadir.
Ia membangun ruang belajar, membuka tempat tinggal, dan mendampingi mereka yang sering terabaikan. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menanamkan harapan. Baginya, membantu anak muda berarti percaya bahwa setiap manusia punya kemungkinan untuk bertumbuh—bahkan ketika keadaan tampak tidak mendukung.
Dua jalan ini tampak berbeda.Yang satu menekuni keheningan. Yang lain menyelami keramaian. Namun keduanya bertemu pada satu titik: kesungguhan dalam menjalani hidup, dan kepedulian yang nyata.
Dari sini kita belajar, bahwa hidup yang bermakna tidak harus selalu besar atau terlihat. Ia bisa hadir dalam dua bentuk yang sama-sama penting: kemampuan mengelola diri, dan keberanian untuk peduli pada sesama.
Kadang kita perlu berhenti, merapikan batin, mengenali diri.
Kadang kita perlu bergerak, menyentuh kehidupan orang lain, memberi arti.
Dan mungkin, yang paling penting bukan memilih salah satu, tetapi menemukan keseimbangan di antara keduanya.
Perjuangan Santo kasih sejati tidak berhenti pada doa, tetapi menemukan wujudnya dalam tindakan. Salib bukan hanya simbol penderitaan, tetapi juga jembatan antara langit dan bumi—antara kontemplasi dan pelayanan. Seperti Yohanes yang mendaki dalam diam, dan Leonardus yang turun ke tengah dunia, kita pun dipanggil untuk berjalan: setia dalam proses, dan nyata dalam kasih. Sebab pada akhirnya, hidup suci bukanlah tentang menjauh dari dunia atau tenggelam di dalamnya, melainkan tentang menghadirkan Tuhan—di dalam hati yang hening, dan di dalam tangan yang bekerja.
Dan mungkin, di Jumat Agung ini, kita diingatkan kembali:bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan, adalah bagian dari pendakian menuju kasih Allah yang Maha sempurna. Jadi, perjalanan hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa sadar kita melangkah—dan seberapa luas dampak kebaikan yang kita tinggalkan.Aamiin


