Nganjuk – Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 16 Januari 2026 lalu di SMP Islam Baitul Izzah Nganjuk berlangsung jauh dari kesan seremonial. Tidak hanya diisi dengan kajian keagamaan, kegiatan PHBI ini dikemas secara kreatif dengan sentuhan internasional melalui English Spark Week, menghadirkan pembelajaran yang memadukan penguatan iman dan kompetensi global siswa.
Perpaduan inilah yang menjadikan Isra’ Mi’raj kali ini terasa berbeda. Di tengah suasana religius, siswa diajak untuk aktif berinteraksi dalam bahasa Inggris bersama Hamza Sajid, relawan internasional dari AIESEC. Hamza merupakan mahasiswa Teknik di Murdoch University, Perth, Australia, kelahiran Pakistan dan berdomisili di Singapura.
Kehadiran Hamza merupakan bagian dari program Youth for Impact – English Spark Week, hasil kolaborasi SMP Islam Baitul Izzah dengan AIESEC, organisasi kepemudaan internasional yang bergerak di bidang pengembangan kepemimpinan dan pertukaran budaya. Program ini dirancang untuk melatih keberanian berkomunikasi dalam bahasa Inggris sekaligus menanamkan nilai karakter dan spiritualitas Islam.
Selama sepekan, suasana sekolah berubah lebih dinamis. Bahasa Inggris tidak hanya hadir di buku teks, tetapi hidup dalam interaksi nyata. Melalui permainan bahasa, diskusi santai, simulasi percakapan, hingga kerja kelompok, siswa dilatih untuk berani berbicara, mengekspresikan ide, dan membangun rasa percaya diri tanpa takut salah. Pendekatan ini sejalan dengan upaya sekolah dalam memperkuat English environment serta implementasi Kurikulum Cambridge di SMP Islam Baitul Izzah.
Tidak hanya siswa, para guru pun terlibat aktif dalam English Spark Week. Interaksi langsung dengan relawan internasional memberikan ruang praktik autentik bagi guru untuk meningkatkan kepercayaan diri menggunakan bahasa Inggris dalam pembelajaran maupun komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah.
Puncak kegiatan semakin bermakna ketika English Spark Week bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Pada momentum tersebut, Hamza Sajid turut menjadi narasumber kajian bertema “Staying Connected to Allah SWT” yang disampaikan menggunakan bahasa Inggris. Kajian ini menghadirkan suasana berbeda—religius, reflektif, sekaligus edukatif.
Dalam penyampaiannya, Hamza mengajak siswa memaknai sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan sebagai sarana refleksi dan penguatan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa sholat adalah bentuk kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT serta sumber ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup.
“On this day, our beloved Prophet Muhammad ﷺ experienced Isra and Mi‘raj. But for us, our Isra and Mi‘raj happens five times a day through salah,” tutur Hamza di hadapan para siswa.
Penyampaian materi dengan bahasa Inggris yang komunikatif dan kontekstual membuat siswa antusias. Mereka tidak hanya menyimak, tetapi juga berani bertanya dan berdialog. Secara tidak langsung, kajian ini menjadi media pembelajaran listening dan speaking yang autentik, sekaligus memperdalam pemahaman spiritual siswa.
Pihak sekolah menilai kolaborasi ini sebagai bentuk pembelajaran bermakna yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kecakapan abad ke-21. Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa penguasaan bahasa asing tidak bertentangan dengan pembentukan karakter religius, justru dapat saling menguatkan.
Dampak kegiatan pun terasa hingga di luar kelas. Bahasa Inggris mulai digunakan dalam percakapan sederhana antara siswa dan guru, sementara pesan Isra’ Mi’raj menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, keterampilan global, dan kekuatan spiritual.
Melalui kegiatan “Bukan PHBI Biasa: Isra’ Mi’raj Plus English Spark Week”, SMP Islam Baitul Izzah Nganjuk menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang holistik—menguatkan iman, menumbuhkan kepercayaan diri, dan mempersiapkan siswa menjadi generasi muslim yang siap berinteraksi di panggung global tanpa kehilangan jati diri.


