Kasus Lepra di Nganjuk: Memahami Penularan Tanpa Kepanikan

Oleh: Tim medis The Nganjuk Post
Editor: rita amalisa. 31/1/2026
Disadur dari berbagai sumber

Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk tengah menelusuri seorang remaja yang terindikasi mengidap kusta atau lepra. Upaya ini dilakukan untuk memastikan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan dini, sekaligus mencegah dampak kesehatan yang lebih serius. Agar masyarakat tidak terjebak kepanikan maupun informasi keliru, berikut sejumlah penjelasan singkat yang perlu diketahui publik.

Apa itu lepra?
Lepra adalah penyakit infeksi kronis akibat bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi.

Apa itu saraf tepi?

Saraf tepi adalah jaringan saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang. Tugasnya menghubungkan otak dengan seluruh tubuh: kulit, otot, dan organ. Kalau otak & sumsum tulang belakang itu pusat komando, saraf tepi adalah kabel-kabel penghubungnya.

Saraf tepi juga bertugas untuk Merasa → sentuhan, panas, dingin, nyeri, Menggerakkan → otot tangan, kaki, wajah, Mengatur otomatis → keringat, suhu kulit. Saraf tepi banyak terdapat ditangan dan jari, kaki dan jari kaki, wajah, siku, pergelangan tangan, lutut. Itulah sebabnya bagian-bagian ini paling dulu terdampak pada lepra/ kusta.

Apa yang terjadi bila saraf tepi rusak?

Kulit bisa mati rasa, sering kesemutan, otot bisa lemah atau lumpuh, luka tidak terasa sakit → mudah jadi infeksi, menyebabkan kecacatan bukan karena lukanya, tapi karena sarafnya tidak memberi peringatan nyeri ( baca juga nyeri upload rabu, 29/1/26) .

Kenapa lepra menyerang saraf tepi?

Bakteri lepra tumbuh baik di suhu tubuh yang lebih dingin, saraf tepi berada dekat permukaan kulit serta berkembang sangat lambat → kerusakan bertahap dan sering tak disadari.

Bagaimana lepra menular?
Penularan terjadi melalui kontak erat dan berulang dalam waktu lama dengan penderita yang belum menjalani pengobatan.

Seberapa lama kontak yang dimaksud?
berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, seperti hidup serumah. Yang jelas bukan pada pertemuan singkat.

Apakah berjabat tangan atau duduk berdekatan dengan orang yang terindikasi lepra berisiko?
Tidak. Interaksi sehari-hari tidak menularkan lepra.

Apa tanda awal lepra yang sering terabaikan?
Bercak kulit yang mati rasa, kesemutan menetap, serta luka yang tidak terasa nyeri.

Apakah lepra bisa disembuhkan?
Bisa. Dengan pengobatan teratur, pasien tidak lagi menularkan penyakit.

Mengapa Dinkes menelusuri pasien dan keluarga?
Untuk memastikan pengobatan sedini mungkin dan mencegah komplikasi maupun penularan lanjutan.

Mengapa identitas pasien tidak dipublikasikan?
Untuk melindungi pasien dari tekanan sosial agar bersedia menjalani pengobatan hingga tuntas.

Berapa banyak kasus lepra yang ditangani di Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia?

Indonesia masih memiliki beban lepra yang relatif tinggi secara global:

  • Di Nganjuk tidak tersedia data yang dapat diakses secara terbuka mengingat tingkat kerahasiaannya.
  • Nilai prevalensi di Jatim sekitar 0,4 per 10.000 penduduk (2021) dengan angka deteksi kasus baru per tahun sekitar 4,2 per 100.000 penduduk.
  • Indonesia sering berada di peringkat ketiga dunia berdasarkan jumlah kasus baru, setelah India dan Brasil. Pada tahun 2023, Indonesia melaporkan sekitar 14.376 kasus lepra secara nasional, termasuk kasus baru dan yang masih dalam perawatan.

Di Provinsi mana kasus lepra tertinggi secara tradisional di Indonesia?

Berdasarkan data Kemenkes dan WHO, selain Jawa Timur beberapa provinsi dengan angka kasus lepra yang prevalensinya masih di atas target eliminasi antara lain: East Nusa Tenggara, Sulawesi (Tenggara,Tengah, utara dan barat), Gorontalo, Maluku Tengah dan Papua.

Klarifikasi

Lepra tidak menular melalui pertemuan singkat, berjabat tangan, atau sekadar bertetangga. Klaim yang menyatakan sebaliknya tidak didukung fakta medis dan berpotensi menyesatkan publik. Lepra juga bukn penyakit keturunan, kutukan ataupun mitos yang lain.

Penutup Dalam isu kesehatan publik, ketenangan adalah bagian dari solusi. Lepra bukan penyakit yang perlu ditakuti, melainkan dipahami. Informasi yang akurat membantu pengobatan berjalan, sementara stigma justru menjauhkan mereka yang seharusnya ditolong.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *