Waktu baca: 2,5 menit
Tulisan ini lahir dari pengalaman melihat sistem dari dalam. Karena itu, persoalan ini tidak sesederhana angka yang dipublikasikan. Ada kecenderungan bahwa data capaian SNBP (seleksi Nasional berbasis prestasi)—yang seharusnya menjadi bahan evaluasi internal—justru terlalu cepat dibawa ke ruang publik sebagai tolok ukur utama kualitas sekolah. Caban Dinas Pendidikan di Wilayah Jawa Timur yang tegak lurus pada Kepala Dinas nya di Provinsi dan tentunya memberikan laporan kepada Gubernur Jawa Timur! Padahal, pendekatan semacam ini menyimpan risiko: penyederhanaan makna pendidikan menjadi sekadar angka. Contoh menarik muncul pada SMAN 3 Nganjuk (SMAGA). Dengan capaian tembus SNBP tertinggi yakni 56 siswa pada tahun ini menjadikan SMAGA tertinggi sekabupaten Nganjuk dan mewakili Kabupaten Nganjuk di daftar tertinggi SNBP di Jatim (lihat gambar 1). SMAGA dengan prestasi tersebut tidak serta-merta menjadi narasi besar di tingkat kebijakan lokal maupun regional. Namun justru di situlah letak kekuatannya: kepala sekolahnya Drs. Pujianto, MM yang memilih tetap rendah hati, menempatkan capaian tersebut sebagai hasil kolaborasi seluruh elemen sekolah, sekaligus menandai perubahan budaya—bahwa melanjutkan ke perguruan tinggi mulai dipandang sebagai kebutuhan, bukan pilihan.

Di sisi lain, SMAS masih memerlukan perhatian lebih. Hanya beberapa yang menunjukkan konsistensi akademik (SMAS IC BAIZ, SMAS BIMA, SMAS POMOSDA), serta debutan baru yakni SMAS Asyafiah. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama, bukan sekadar perbandingan angka (lihat gambar 2)

Benchmarking Sekolah
Bagaimana sebenarnya perguruan tinggi negeri menilai siswa? Perguruan tinggi memiliki sistem benchmarking yang membaca rekam jejak sekolah secara lebih utuh—konsistensi akademik, kualitas individu, hingga potensi bertahan mahasiswa di masa depan dengan presatasi dan capaian lainnya yang membanggakan pihak kampus. Kampus-kampus seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Universitas Airlangga tidak sekadar menerima banyak, tetapi menyaring yang paling siap. Jadi, tidak bisa disangkal, SMAN 1 Nganjuk (SMASA) dibawah kepemimpinan DRS. SUGIYONO, M.Si. menunjukkan penguatan dalam kuantitas. Angka SNBP meningkat, stabil, dan mendominasi. Namun pertanyaan pentingnya: apakah dominasi angka otomatis berarti dominasi kualitas?
Fakta di lapangan menunjukkan kualitas tidak selalu bekerja dalam logika jumlah. Kualitas justru bekerja melalui proses seleksi yang ketat—terlihat dari penetrasi ke program studi elit (Fakultas Kedokteran), capaian di bidang kompetitif, hingga keberhasilan menembus peluang global (SMADA 7 siswa, SMASA 5 siswa, SMANTAN 1 siswa). kita percaya SMASA akan melakukan gebrakan kuantitas=kualitas pada tahun-tahun mendatang.
Dalam konteks ini, SMAN 2 Nganjuk (SMADA) menunjukkan daya tembus yang membanggakan. Sementara SMAN 1 Kertosono (SMAKER), meski tidak selalu ramai dalam angka, tetap konsisten dalam benchmarkingnya. Ini menunjukkan bahwa kualitas bisa tumbuh dalam diam—tidak selalu hadir dalam statistik besar. Sayangnya, yang sunyi sering kalah oleh yang ramai. Dan disinilah letak kekeliruan yang perlu diwaspadai. SNBP, sebagai jalur berbasis rapor/ prestasi, dipengaruhi bukan karena jumlah siswa pintar namun juga dipengaruhi oleh kuota sekolah, strategi pemilihan jurusan, dan distribusi nilai. Ini semua terhbung dengan bagaimana manajemen sekolha tersebut. Artinya, angka yang besar tidak selalu identik dengan kualitas yang tinggi. Jika publik terus membaca angka sebagai satu-satunya ukuran, maka sekolah pun akan terdorong memproduksi angka—bukan membangun kedalaman kualitas. Hal ini sama persis dengan cara berpikir orangtua siswa SMADA. Kualitas nomor satu.
Jadi, yang dibenahi bukan datanya, melainkan cara kita memaknainya. Karena mungkin , yang keliru bukan hasilnya, tetapi cara kita menyimpulkannya. Sebab, keyakinan bahwa angka itu sudah cukup sungguh membahayakan. Tulisan ini tidak bertujuan meninggikan atau merendahkan pihak mana pun. Ini hanya upaya sederhana untuk meluruskan cara kita membaca sesuatu yang tidak semestinya disederhanakan.


