HANTAVIRUS? SIAPA TAKUT!

“Hantavirus? Ah, paling itu  cuma isu musiman.” Begitu biasanya respons banyak orang. Padahal virus ini bukan pendatang baru. Nama “hantavirus” berasal dari Sungai Hantan di Korea, lokasi wabah yang menyerang tentara saat Perang Korea awal 1950-an. Sejak itu, virus ini dikenal sebagai penyakit yang berkaitan erat dengan tikus dan lingkungan yang kurang higienis.

Hantavirus menular bukan lewat jabat tangan atau sekadar berpapasan, melainkan melalui urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering lalu terhirup manusia. Gudang lembap, rumah kosong, tumpukan kardus, hingga dapur yang jarang dibersihkan bisa menjadi tempat ideal persembunyian rodensia pembawa virus.

Gejalanya sering tampak “biasa”: demam, nyeri otot, sakit kepala, mual. Namun pada kasus berat, virus dapat menyerang paru-paru dan ginjal hingga menyebabkan kematian. Karena itu, dunia medis tidak pernah menganggap hantavirus sebagai penyakit sepele.

Di Indonesia, kasus hantavirus memang belum sebanyak COVID-19 atau demam berdarah. Namun data Kementerian Kesehatan mencatat hingga 2026 terdapat 23 kasus positif di sembilan provinsi dengan tiga kematian. Artinya, tingkat kematian kasusnya mencapai sekitar 13 persen. angka itu berasal dari perhitungan sederhana berdasarkan laporan yang menyebut 23 kasus dan 3 kematian di Indonesia. Jika dihitung:

Jadi sekitar 13 persen case fatality rate (CFR) dari data kasus yang terlapor tersebut — bukan berarti semua penderita hantavirus pasti meninggal 13 persen. Angka itu juga bisa berubah jika ada tambahan kasus baru atau laporan yang belum terdeteksi. Jawa Timur sendiri dilaporkan memiliki satu kasus terkonfirmasi pada Januari 2026 dan pasien dinyatakan sembuh.

Infeksi Hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama, yaitu gangguan pada ginjal yang dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), serta gangguan serius pada paru-paru yang disebut Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Kedua kondisi ini tergolong berbahaya dan dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *