Fenomena fresh graduate yang kesulitan mendapatkan pekerjaan bukan lagi cerita baru ini sudah jadi “ritual tahunan” yang terus berulang. Setiap tahun, ribuan bahkan jutaan lulusan baru masuk ke pasar kerja dengan harapan tinggi, tetapi yang mereka temui justru realita yang keras: lowongan terbatas, persaingan brutal, dan standar perusahaan yang semakin tinggi. Pertanyaannya kemudian menjadi relevan dan cukup menohok: apakah ini murni karena fresh graduate kurang skill, atau memang lapangan kerja yang tidak mampu menampung mereka?
Narasi yang paling sering digaungkan adalah soal kurangnya skill. Banyak perusahaan mengeluhkan bahwa lulusan baru tidak siap kerja, minim pengalaman, dan tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Soft skill seperti komunikasi, problem solving, hingga adaptasi juga sering dianggap lemah. Tidak sedikit lowongan entry-level yang secara ironis tetap mensyaratkan pengalaman kerja minimal satu hingga dua tahun. Dalam kondisi seperti ini, fresh graduate seolah terjebak dalam lingkaran yang sulit ditembus: tidak bisa bekerja karena tidak punya pengalaman, tetapi tidak bisa punya pengalaman karena tidak diberi kesempatan bekerja.
Namun, menyederhanakan masalah ini hanya pada “kurang skill” adalah bentuk penyempitan realitas. Faktanya, banyak lulusan baru yang sudah membekali diri dengan berbagai sertifikasi, magang, bahkan pengalaman organisasi yang cukup intens. Mereka mengikuti pelatihan, kursus online, hingga bootcamp demi meningkatkan daya saing. Tetapi tetap saja, tidak semua dari mereka berhasil mendapatkan pekerjaan. Ini menunjukkan bahwa masalahnya tidak sesederhana kualitas individu, melainkan juga terkait dengan struktur pasar kerja itu sendiri.
Di sisi lain, jumlah lapangan kerja yang tersedia memang tidak selalu sebanding dengan jumlah pencari kerja. Pertumbuhan tenaga kerja baru setiap tahun sering kali lebih cepat dibandingkan penciptaan lapangan kerja. Ditambah lagi, perkembangan teknologi dan otomatisasi mulai menggantikan beberapa jenis pekerjaan entry-level yang dulu menjadi pintu masuk bagi fresh graduate . Perusahaan kini cenderung mencari kandidat yang “siap pakai”, sehingga lebih memilih pekerja berpengalaman daripada harus melatih dari nol. Dalam logika efisiensi bisnis, ini masuk akal. Tetapi dalam konteks sosial, ini menciptakan bottleneck yang serius bagi lulusan baru.
Masalah lain yang jarang disorot adalah mismatch antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak kurikulum yang masih terlalu teoritis dan belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan zaman. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan tidak selalu memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Ini bukan sepenuhnya kesalahan mahasiswa, melainkan juga sistem pendidikan yang belum bergerak cukup cepat. Dunia industri berubah dengan kecepatan tinggi, sementara dunia pendidikan sering kali tertinggal beberapa langkah di belakang.



