Selain itu, ada juga faktor ekspektasi baik dari sisi perusahaan maupun fresh graduate itu sendiri. Perusahaan menginginkan kandidat dengan kualifikasi tinggi, tetapi sering kali menawarkan gaji dan jenjang karier yang tidak sebanding. Di sisi lain, beberapa fresh graduate memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pekerjaan pertama mereka, baik dari segi gaji, posisi, maupun lingkungan kerja. Ketidakseimbangan ekspektasi ini memperlebar jarak antara supply dan demand di pasar kerja.
Yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah munculnya fenomena “overqualification” di beberapa sektor. Banyak lulusan sarjana yang akhirnya melamar pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan kualifikasi setinggi itu, hanya karena terbatasnya pilihan. Hal ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga menciptakan ketidakefisienan dalam sistem tenaga kerja secara keseluruhan. Di satu sisi, ada talenta yang tidak termanfaatkan secara optimal, di sisi lain ada sektor yang tetap kekurangan tenaga kerja dengan keterampilan spesifik.
Jadi, apakah masalah utama ada pada skill atau lapangan kerja? Jawabannya tidak hitam-putih. Ini adalah kombinasi dari keduanya, ditambah dengan faktor sistemik lain seperti pendidikan, kebijakan ketenagakerjaan, dan dinamika ekonomi. Menyalahkan fresh graduate sepenuhnya adalah pendekatan yang tidak adil, tetapi mengabaikan pentingnya peningkatan skill juga bukan solusi.
Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih komprehensif. Dunia pendidikan perlu beradaptasi dengan kebutuhan industri, bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga memastikan relevansi kompetensi mereka. Perusahaan perlu membuka lebih banyak ruang bagi entry-level dengan sistem pelatihan yang jelas, bukan hanya mencari kandidat instan. Sementara itu, fresh graduate juga harus proaktif dalam mengembangkan diri, membangun portofolio, dan memperluas jaringan.
Pada akhirnya, kesulitan fresh graduate dalam mendapatkan pekerjaan bukan sekadar persoalan individu yang kurang siap, melainkan refleksi dari sistem yang belum sepenuhnya sinkron. Jika terus dibiarkan, ini bukan hanya akan menjadi masalah generasi muda, tetapi juga masalah nasional yang berdampak pada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Karena pada titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah”, tetapi “siapa yang mau mulai memperbaiki.”
Catatan Redaksi: untuk anak2 yang baru lulus dari SMA/ SMK Pada akhirnya, kritik bukanlah bentuk pesimisme, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga arah. Sebab sebesar apa pun tantangan yang dihadapi, Indonesia tetap memiliki peluang untuk bertumbuh selama kepercayaan publik dan kepercayaan pasar dijaga melalui kebijakan yang konsisten, transparan, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang bangsa.dan kepada para siswa/ mahasiswa è berpikir kritis saat pemilihan jurusan/ program studi. Euforia sesaat akan membutakan kita mau kemana setelah lulus kelak. Semua orang mengalai tahapan yang sama. Dan hanya kalian yang tangguh, memiliki 4 C/K (kreativitas, komunikasi,kolaborasi dan karakter baik) lah yang akan menjadi pemenang dari setiap pelombaan kehidupan kalian.



