Waktu baca: 4 menit
Ada orang yang mengajar untuk menyampaikan ilmu. Ada pula yang mengajar untuk menghidupkan kata, menumbuhkan nalar, dan memanusiakan manusia. Doni Romadhona memilih jalan kedua—sunyi, tekun, dan setia pada makna, bukan tepuk tangan. Perjalanan pengabdiannya mungkin tak selalu ditandai sorak kemenangan. Namun, dari ruang-ruang kelas, komunitas literasi, hingga panggung prestasi siswa, Pak Dhona, begitulah dia sering menyebut dirinya, percaya bahwa karya terbaik lahir dari kesetiaan pada proses. Sebagaimana ungkapan yang kerap dikaitkan dengan Pramoedya Ananta Toer, “Hidup sederhana, tetapi berpikir dan berkarya secara luar biasa.” Sebab yang abadi bukanlah kemasyhuran, melainkan jejak yang ditinggalkan dalam kehidupan orang lain.
“Kata-kata dapat mengubah cara seseorang memandang dunia. Karena itulah, seorang guru bahasa sesungguhnya tidak hanya mengajarkan tata bahasa, melainkan juga menanamkan cara berpikir, merawat nurani, dan memelihara kemanusiaan.” Barangkali keyakinan itulah yang mengalir dalam perjalanan Doni Romadhona, S.Pd., Gr., atau Pak Dhona.
Riwayat Pendidikan
Lahir dan tumbuh di Nganjuk, Doni Romadhona, si kecil yang kurus tapi selalu haus ilmu baru, menapaki jenjang pendidikan mulai dari SDN Pacekulon 1, RSBI SMP Negeri 1 Nganjuk, hingga SMA Negeri 2 Nganjuk. Kecintaannya pada bahasa kemudian membawanya menempuh pendidikan Sarjananya di Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Negeri Malang (UM), sebelum menyempurnakan kompetensi profesionalnya melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Univeritas .



