NGANJUK – Bagaimana caranya membuat siswa Generasi Z yang lekat dengan gadget, tiba-tiba larut dalam sejarah pahlawan, paham nilai Pancasila, meneladani akhlak Rasulullah SAW, sekaligus berani public speaking bahasa Inggris di depan umum? Tantangannya: semua itu harus terjadi hanya dalam waktu 48 jam (dua hari satu malam). Jawabannya ada di SMA Islam Insan Cendekia Baitul ‘Izzah, Nganjuk. Melalui program bertajuk Insan Cendekia Heritage Fest 2026 yang digelar pada 28-29 Agustus 2026, yang merupakan pelaksanaan Peringatan HUT RI ke 81 dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448H, sekaligus sebagai upaya membangun ekosistem berbahasa Inggris, sekolah ini membuktikan bahwa belajar empat mata pelajaran “berat” sekaligus bisa terasa seperti bermain game petualangan yang seru.
Bukan Sekadar English Camp Biasa
Lupakan English camp yang hanya berisi games ringan dan hafalan kosakata. SMAI Insan Cendekia Baitul ‘Izzah mengambil jalan yang berbeda. Mereka merancang modul kokurikuler resmi dengan tema “Hunt, Write, Speak: Mengenal Pahlawan dan Teladan Lintas Zaman”. Siswa kelas X hingga XII tidak duduk diam di kelas. Mereka dilepas ke penjuru sekolah untuk berburu fakta sejarah, menganalisis nilai kebangsaan, dan merangkainya menjadi sebuah presentasi bahasa Inggris yang memukau. Khusus untuk kegiatan English Camp bertujuan membangun ekosistem sekolah yang mengintegrasikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar komunikasi harian secara natural, menyenangkan, dan membudaya di lingkungan

Berburu Fakta ala Detektif: Misi Rahasia 10 Pahlawan
Petualangan dimulai dengan sesi Heroes’ Puzzle Quest. Siswa dibagi menjadi tim-tim kecil dan ditantang menelusuri jejak 10 tokoh bangsa lintas zaman. Mulai dari era Pergerakan Nasional (H.O.S Cokroaminoto, KH. Agus Salim, Rasuna Said), era Pendudukan Jepang (KH. Mas Mansyur, KH. Zainal Mustofa), hingga era mempertahankan kemerdekaan (Jenderal Sudirman, Buya Hamka, Mohammad Natsir, dll).
Sekolah disulap menjadi lima zona petualangan: Zona Pemberangkatan, Zona Nama Tokoh, Zona Biografi, Zona Bayangan, hingga Zona Bentuk Perjuangan. Di setiap pos, siswa harus memecahkan clue, menjawab pertanyaan wawasan kebangsaan dengan hitungan detik, dan “diinterogasi” oleh guru pendamping sebelum lolos ke pos berikutnya. Adrenalin dan kerja sama tim benar-benar diuji!



