KEBETHENG DI BAWEAN

Solo Travelling Part 1

Dalam bahasa Jawa yang saya pahami, kebetheng adalah ungkapan untuk menunjukkan ketidakberdayaan manusia menghadapi perilaku alam semesta. Khususnya hujan!

Dan kali ini, saya benar-benar sedang mengalami kebetheng itu. Saya berangkat ke Pulau Bawean, sebuah pulau yang selama ini masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi. Namun, sampai hari ini, Jumat, 25 September, saya masih harus menunggu kepastian kapal yang akan membawa saya kembali ke Surabaya melalui Gresik.
Bingung? Please, don’t, will you, lurs?
Saya ulangi, ya: Pulau Bawean.
Kenapa harus saya ulang sampai beberapa kali? Karena entah kenapa lidah saya masih keseleo dan kata Bawean beberapa kali berubah menjadi Baswedan. Heran juga. Kenapa pikiran saya masih belum bisa move on dari tokoh Pilpres 2024 itu, ya?
Padahal, jelas-jelas ketika menjadi Mendiknas waktu itu saja, dia masih keteteran mengurus data pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sudahlah. Kita kembali ke Pulau Bawean.

1. Berangkat dari Nganjuk
Perjalanan ini saya mulai pada Jumat, 18 September, selepas salat Jumat. Dari Nganjuk, saya menggunakan jasa Grab langsung—atau lebih tepatnya tenaga lepas bernama Pak Kabul. Dengan mobil odong-odong-nya, saya
diantar menuju Terminal Baru Nganjuk. Begitu sampai terminal, bus Eka Patas jurusan Surabaya ternyata sudah siap. Saya langsung naik.
Bus melaju menuju Surabaya melalui jalan tol dan akhirnya membawa saya sampai ke Bungurasih. Dari Terminal Bungurasih, saya masih harus mampir ke rumah anak saya untuk berpamitan. Tetapi pamitnya agak samar-samar, artinya nyrempet -nyrempet ia istrinya. Kenapa? Karena persis seperti dugaan saya, Dito, anak mbarep saya,
langsung tidak setuju dengan pikiran liar ibuknya: solo travelling ke pulau pulau di Indonesia yang less visited.
Barangkali di dalam pikirannya, ibuknya ini sudah mulai mencari masalah.
Atau mungkin dia berpikir: “Buk, ngapain sih pergi jauh-jauh sendirian ke pulau yang bahkan jadwal kapalnya saja belum tentu?”
Dan ternyata, pertanyaan semacam itu memang ada benarnya. Saya baru menyadarinya kemudian.

2. Menuju Pulau Bawean
Sabtu, 19 September, selepas salat Subuh, saya sudah memesan Grab mobil. Tarifnya Rp87.500. Kok agak mahal? Ya, Karena saya menuju wilayah bandara. Ongkos Grab memang berbeda ketika memasuki kawasan bandara. Setelah turun dari Grab, saya bergerak menuju bagian check-in Susi Air. Tiketnya Rp710.000. sudah lengkap dengan asuransinya. Tiket itu sudah sayapesan melalui Traveloka sepuluh hari sebelumnya.Kenapa harus memesan begitu jauh sebelum keberangkatan?mau tahualaannya bukan? Nah! Benar! Akhirnya, di sinilah saya mulai merasakan kebetheng yang sesungguhnya.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *