Saya sebelumnya tidak menduga bahwa pesawat Susi Air yang saya tumpangi menuju Bawean hanya berkapasitas maksimal 12 penumpang. Dan penerbangannya pun hanya tersedia empat kali dalam seminggu, dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar: cuaca harus memungkinkan untuk terbang! Ini bukan seperti naik bus Eka Patas dari Nganjuk ke Surabaya.
Kalau busnya tidak datang, kita bisa menunggu bus berikutnya.
Kalau terlambat, mungkin masih ada bus lain.
Tetapi kalau pesawat kecil jenis Cessna menuju sebuah pulau bergantung pada cuaca?
Cerita menjadi berbeda.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa perjalanan menuju Pulau Bawean bukan sekadar soal membeli tiket.
Ada faktor lain yang jauh lebih berkuasa: alam.
Dan ketika alam sudah berkata tidak, manusia hanya bisa menunggu.
3. Ketika Laut Ikut Menentukan Nasib,
Persoalan menjadi semakin menarik karena alternatif pulang dari Pulau Bawean adalah melalui jalur laut meski alasan sesungguhnya untuk mengirit tapi didepan banak orang saya bilangnya supaya pengalamannya lengkap! Padahal, lurs…Sementara itu, pada saat saya berada di sini, berita mengenai kecelakaan KMP Virgo di kawasan Selat Mindanao yang sebelumnya ramai
diperbincangkan makin membuat semua ciut nyali.
Kapal, laut, cuaca, keselamatan—semuanya tiba-tiba terasa dekat dengan
perjalanan saya. Dan saya pun mulai berpikir:
Oh, ternyata manusia memang kecil sekali di hadapan alam.
Kita bisa memesan tiket sepuluh hari sebelumnya.
Kita bisa merencanakan perjalanan dengan detail.
Kita bisa menghitung ongkos.
Kita bisa menentukan tanggal keberangkatan dan kepulangan.
Tetapi ketika alam punya keputusan sendiri, semua rencana itu mendadak hanya menjadi rencana.
Itulah kebetheng.
Dan hari ini, Jumat, 25 September, saya masih berada di Bawean.
Masih menunggu kepastian kapal yang akan membawa saya kembali ke Gresik, lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Jadi, kalau ada yang bertanya:
“Buk, kapan pulang?”
Jawaban saya sederhana:
“Belum tahu.”
Bukan karena saya ingin memperpanjang liburan.
Bukan pula karena tiketnya belum dibeli.
Tetapi karena saya sedang belajar satu hal yang mungkin sebenarnya sudah
lama saya tahu:
Manusia boleh merencanakan perjalanan. Tetapi alam semesta yang menentukan kapan perjalanan itu benar-benar bisa dilanjutkan.
Dan kali ini, saya sedang benar-benar…KEBETHENG DI BAWEAN.
Bersambung…di episode 2.



