KEBETHENG DI BAWEAN

Solo Travelling Part 2

Kenapa harus Pulau Bawean?

Padahal, Indonesia ini punya begitu banyak pulau. Saya , maksud kata dari kata Kami adalah saya dengan rombongan kodew himapala, menikmati Karimunjawa, pernah ke Pulau Sebesi di Lampung, sampai menjelajah kepulauan di  NTT dengan Labuan Bajo dan Larantuka-nya yang cukup popular (di dua pulau terakhir ini saya hanya dengan sahabat lahir batin saya dari HIMAPALA yang bernama Heradiana). Bali? Ah, saya kira tidak perlu dibahas. Pulau itu sudah terlalu terkenal, terlalu ramai, dan rasanya tidak membutuhkan promosi tambahan dari saya.

Lalu, kenapa Pulau Bawean?

Pertanyaan itu juga sempat muncul di kepala saya sendiri.

Apa istimewanya sebuah pulau kecil yang letaknya di atas kota Gresik ini?

Akhirnya, rasa penasaran itu membawa saya ke sana. Tujuh malam delapan hari saya tinggal di Pulau Bawean. Cukup lama untuk sekadar menjadi turis, tetapi mungkin belum cukup lama untuk benar-benar memahami kehidupan orang Pulau Bawean.

Namun, justru dari tinggal beberapa hari itulah saya mulai melihat hal-hal kecil yang menarik. Bukan hanya pemandangan atau tempat wisatanya, tetapi juga manusia dan keseharian mereka. Dan inilah beberapa hal yang tertinggal di kepala saya. Ikuti terus yaa gaiz…

1. Tentang Rumah, Kerja Keras, dan Kampung Halaman

Sebagian besar masyarakat Bawean yang Saya temui memiliki latar belakang Madura. Ada kesan kuat tentang kerja keras dan kemampuan mengelola hasil jerih payah.

Salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah kondisi rumah-rumah penduduk. Saya tidak banyak menemukan rumah dengan kondisi tembok yang tampak reot atau terbengkalai. Sebaliknya, cukup banyak rumah yang terlihat kokoh, terawat, dan dibangun dengan material yang baik.

Bukan sekadar rumah sederhana dengan dinding seadanya.

Ada kesan bahwa ketika orang Bawean bekerja dan mendapatkan penghasilan, sebagian hasilnya akan kembali ke rumah. Ke kampung halaman. Ke tempat di mana keluarga mereka berada. Dan ternyata, cerita tentang merantau ini cukup kuat di Bawean. Banyak keluarga yang anggotanya pergi mencari penghidupan di luar pulau, lalu suatu saat kembali untuk membangun atau memperbaiki rumah di kampung halaman.

Saya jadi berpikir, mungkin begitulah cara seseorang menunjukkan keberhasilannya: bukan dengan banyak bercerita, tetapi dengan membawa pulang hasil kerja dan membuat kampung halamannya sedikit lebih baik.

2. Tentang Wajah-Wajah Manis Di Bawean

Ini pengamatan yang sangat subjektif, tentu saja.Tetapi saya tidak bisa tidak untuk tidak memperhatikannya. Entah karena saya sedang dalam suasana hati yang senang selama perjalanan, atau memang ada sesuatu yang khas dari orang-orang Bawean, tetapi saya merasa banyak perempuan yang saya jumpai memiliki wajah yang manis. Bukan hanya para pemudi. Para ibu yang sudah setengah baya pun masih menyimpan guratan wajah yang menurut saya… ya, tetap manis.

Sementara para pemudi, sebagian terlihat semakin glowing. Mungkin pengaruh zaman. Mungkin karena perawatan kulit. Atau jangan-jangan ini efek dari apa yang saya sebut sebagai “koreanisasi”—demam kulit glowing, skincare, dan standar kecantikan ala Korea yang sekarang ada di mana-mana. Tapi sekali lagi, ini hanya kesan seorang pelancong yang kebetulan sedang memperhatikan wajah-wajah di sekitarnya. Kalau pria? Jangan ditanya! Sama saja, sodara – sodara!

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *