3. Yang Paling Menarik: Rasa Aman
Nah, ini yang justru paling membuat saya terkesan.
Bawean terasa aman. Setidaknya, itulah yang saya rasakan selama tujuh malam delapan hari berada di sana. Saya bertemu dengan beberapa anak muda: ada Anissa mahasiswa lulusan sebuah Instititut Agama Islam program studi Manajemem Pendidikan Islam. Ketika saya lempar pertanyaan bagaimana kalua Bawean dijadikan sbuah Kota Admnitratif? Dia menggeleng dengan cepat. Dia khawatir kalau Bawean yang aseli berubah menjadi tak terkendali.
Saya bilang kan enak, kalua Bawean jadi kota administrative, nanti akan ada rumah sakit yang lebih besar, akan lebih banyak dokter spesialis yang menangani kasus penyakit yang lebih spesifik juga. Dia tetap menggeleng. Dia bilang kalua itu salah satu tuntutan demo mahasaiswa siang tadi (jumat, 25 September 2026. Baca juga Bawean tidak sendirian), banyak hal yang harus dipertimbangkan. Nampaknya Dia menginginkannya Pulau Baweannya tetap dengan ritme biasanya dengan lalu lintasnya yang tidak terlalu padat. Tidak ada ojol. Tidak ada bus antar kecamatan atau angkodes. Kehidupan masyarakat berjalan dengan ritme yang lebih pelan. Dan ada satu pemandangan yang sering Saya lihat: orang naik motor tanpa helm.Motor yang digunakan pun bukan selalu motor dengan CC kecil. Banyak yang menggunakan motor-motor besar seperti NMAX atau PCX. Dan mereka melaju dengan kencang! Gila kan?
Polisi? Saya melihat aktivitas kepolisian di tingkat kecamatan, seperti Polsek Sangkapura dan Tambak, tetapi suasananya terasa tidak terlalu tegang menghadapi lalu-lalang masyarakat dengan kebiasaan berkendara seperti itu.
Saya sendiri, sebagai premotor kambuhan, justru merasa agak ngeri.
Buat saya, naik motor tanpa helm itu rasanya seperti ada sesuatu yang kurang. Kepala terasa terlalu “terbuka”. Isis!😄
Mungkin karena saya sudah terbiasa dengan kehidupan kota yang membuat helm terasa seperti bagian wajib dari tubuh ketika naik motor.
Di Bawean, saya justru melihat sesuatu yang berbeda: sebuah masyarakat yang tampaknya masih memiliki tingkat kepercayaan sosial yang cukup tinggi.
Tentu, bukan berarti Bawean bebas dari persoalan atau kriminalitas. Saya tidak sedang membuat kesimpulan sebesar itu hanya dari pengalaman singkat selama delapan hari. Saya hanya sedang mencatat apa yang saya lihat dan rasakan. Dan mungkin, justru di situlah menariknya sebuah perjalanan.
Kita datang dengan membawa banyak prasangka dan bayangan tentang sebuah tempat. Lalu pulang dengan beberapa pertanyaan baru.
Bawean ternyata bukan sekadar pulau yang namanya membuat lidah saya keseleo. Bawean adalah pulau yang pelan-pelan membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh. My trip, my adventure benar -benar berlaku saat ini…



