Ketika seseorang menunjukkan sikap yang berbeda di hadapan orang yang berbeda, kita sering kali buru-buru menyebutnya munafik. Namun, benarkah setiap perubahan perilaku berkaitan dengan kemunafikan? Ataukah ada sisi psikologis yang perlu kita pahami lebih dalam?
Dalam kehidupan sosial, kita kerap menjumpai seseorang yang tampak memiliki dua wajah. Di hadapan seseorang ia begitu ramah, tetapi di belakangnya justru melontarkan perkataan yang berlawanan. Hari ini mengatakan sesuatu, esok menyangkalnya. Sikap dan perkataannya seolah tidak pernah berjalan beriringan.
Fenomena semacam ini sering kali mengundang satu label: munafik.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, persoalannya tidak selalu sesederhana itu. Ada istilah yang dikenal sebagai Dissociative Identity Disorder (DID), atau gangguan identitas disosiatif. Dahulu, kondisi ini lebih dikenal dengan istilah Multiple Personality Disorder (MPD).
Lantas, apakah kemunafikan merupakan bagian dari gangguan tersebut? Jawabannya: tidak.
Munafik merupakan istilah moral dan keagamaan yang merujuk pada ketidaksesuaian antara perkataan, keyakinan, dan perbuatan seseorang. Sementara itu, DID merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan adanya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda, disertai gangguan dalam kesinambungan identitas dan kesadaran diri. Kondisi ini juga dapat melibatkan celah ingatan.
Meskipun berbeda, keduanya terkadang memperlihatkan kemiripan dari luar.
Ketika Perilaku Tampak Tidak Konsisten
Salah satu persamaan yang dapat diamati adalah adanya perubahan perilaku. Seseorang yang dianggap munafik dapat menunjukkan sikap berbeda ketika berhadapan dengan orang yang berbeda. Ia mungkin menyampaikan sesuatu di hadapan seseorang, tetapi melakukan hal yang bertentangan ketika orang tersebut tidak ada.
Pada DID, perubahan perilaku dapat berkaitan dengan peralihan keadaan identitas. Setiap keadaan identitas dapat memiliki pola perasaan, perilaku, bahkan akses ingatan yang berbeda.
Dari sudut pandang orang lain, kedua fenomena tersebut mungkin tampak serupa. Seseorang terlihat tidak konsisten, berubah-ubah, bahkan seolah menjadi pribadi yang berbeda.
Namun, kemiripan yang terlihat tidak boleh membuat kita menyamakan keduanya.



