PONOROGO — Kalau bicara soal totalitas, sepertinya kita angkat topi kepada para pendekar dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo. Bukan lagi soal atraksi fisik atau adu ketangkasan di gelanggang, kali ini mereka sukses mengguncang “Bumi Reog” dengan cara yang jauh lebih classy dan spiritual. Agenda tahunan bertajuk Bumi Reog Berdzikir kembali digelar, dan jujur saja, vibes-nya sungguh out of this world!
Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, tapi sudah menjadi trademark tahunan yang ditunggu-tunggu. Bayangkan saja, ribuan warga PSHT tumpah ruah membentuk lautan manusia. Tapi jangan salah sangka, tidak ada kesan garang atau intimidasi di sini. Yang ada justru pemandangan heart-warming di mana para pendekar berbaju hitam ini bertransformasi menjadi pasukan putih yang khusyuk melantunkan dzikir. Ini adalah bukti nyata kalau PSHT nggak cuma soal melatih otot, tapi juga mengasah batin agar tetap humble dan connect dengan Sang Pencipta. It’s a perfect balance between physical strength and spiritual depth.

Bagi para Gen Z di dalam organisasi, momen ini adalah peak of loyalty. Di tengah gempuran tren dunia yang serba instan, ribuan anak muda SH Terate ini justru memilih untuk tetap membumidan melangitkan doa. Melihat mereka duduk bersimpuh, melantunkan asmaul husna, dan bersholawat bersama, membuat merinding yang hadir. Ini adalah momen healing masal yang jauh lebih berkesan daripada sekadar nongkrong di cafe. Ada energi luar biasa yang terpancar saat ribuan orang berada dalam satu frekuensi doa yang sama—sebuah spiritual energy yang sungguh bisa membakar semangat untuk menghadapi kerasnya hidup.


