DARURAT KESEHATAN: PERUBAHAN IKLIM DAN LONJAKAN DBD

Bencana Sumatra yang sebelumnya dimulai dari daerah Jawa Tngah, jawa Barat, erupsi Gunung Semeru dan longsor di Ponorogo, Jawa Timur dikatakan banyak pihak sebagai bukti iklim sedang geram dan marah pada manusia! Iklim dalam konteks litreral adalah penjarahan hutan, sampah mangkrak di sungai – sungai dan got – got  saluran air depan rumah. Memang ini semua tak lepas dari takdir Tuhan. Namun, manusia berkewajiban menjaga dan mengupayakannya untukkebaikan semuanya bukan?!

Perubahan iklim semakin terlihat pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pada tahun 2025 ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali meningkat. Setelah sempat menurun pada tahun sebelumnya, kasus DBD naik lagi karena suhu udara semakin panas dan hujan datang tidak menentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berperan besar dalam meningkatnya penyakit yang berhubungan dengan lingkungan.

Di Provinsi Jawa Timur, situasinya juga mirip. Jawa Timur tetap menjadi salah satu provinsi dengan kasus DBD tertinggi pada tahun 2025. Penelitian di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk menunjukkan adanya lonjakan kasus DBD dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, jumlah kasus meningkat tajam karena tingginya kelembaban, curah hujan yang tidak stabil, dan suhu udara yang semakin panas. Keadaan ini membuat nyamuk Aedes aegypt pembawa virus DBD lebih cepat berkembang biak.

Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa beberapa kondisi lingkungan seperti seringnya hujan, udara lembap, dan banyaknya tanaman atau semak-semak turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Pada tahun 2025, faktor-faktor ini berubah lebih drastis daripada tahun-tahun sebelumnya, sehingga semakin memudahkan nyamuk berkembang.

Data cuaca terbaru menunjukkan bahwa pada Oktober 2025, Nganjuk menjadi salah satu daerah dengan suhu tertinggi di Jawa Timur, suhu maksimum di Nganjuk tercatat mencapai 36,1° C. Ditambah hujan yang datang tiba-tiba, menyebabkan banyak genangan air. Genangan inilah yang kemudian menjadi tempat ideal bagi nyamuk bertelur. BMKG juga menyampaikan bahwa perubahan pola musim pada tahun 2025 semakin meningkatkan risiko penyakit, terutama DBD.

Gaya hidup bersih dan sehat tidak hanya karena kasus meningkatnya DBD. Tapi, lebih pada lelaku. Ini berarti bahwa perilaku hidup bersih dan sehat  adalah sbuah kemutlakan dalam kehidupan sehari – hri. Nganjuk bisakah? Entahlah. Semoga saja bisa! Melihat situasi tersebut, masyarakat Nganjuk perlu memperkuat kebiasaan hidup bersih dan sehat, terutama saat musim hujan. Selain itu,  langkah sederhana seperti menguras dan menutup tempat penampungan air, membersihkan lingkungan agar tidak ada genangan.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *