DARURAT KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA: BERGULAT DENGAN HORMON DAN EKSPEKTASI SOSIAL

Penulis           : Dani Susilowati
Editor             : Anjannu Ramia P & Arum Nur

Menjadi seorang remaja di era digital ini seperti petualang yang sedang mencari jati diri di tengah badai hormon dan ekspektasi sosial. Tapi tahukah kamu? Bahkan petualang pun bisa tersesat.

The Nganjuk Post. Senin 24 maret. Kesehatan mental remaja adalah kondisi kesejahteraan psikologis yang ditandai dengan kemampuan remaja untuk mengelola stres, memahami emosi diri, membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang sehat, serta memiliki penerimaan diri yang positif.

Sebuah survei yang dilakukan oleh I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) di tahun 2022 menunjukkan sebanyak 15.5 juta atau sekitar 34.9% remaja mengalami masalah kesehatan mental. Kemudian, data dari WHO juga menunjukkan 1 di antara 7 anak berusia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Dengan Jumlah penduduk Kabupaten Nganjuk pada semester 1 tahun 2024 sebanyak 1.148.611 jiwa dan dengan wilayah seluas sekitar 122.433 km2 atau setara dengan 122.433 Ha yang diri dari tanah sawah 43.052 Ha,Tanah kering 32.373 Ha dan tanah hutan 47.007 Ha, Kabupaten Nganjuk pun sama halnya dengan drah lin di Indonesia,

Sedangkan secara nasional, pada tahun 2024, jumlah kejadian kekerasan pada remaja dana anak di Indonesia tembus 8 ribu kasus. Pelakunya kebanyakan orang – orang dalam lingkungannya, yang dikenalnya seperti orangtua (kandung/ sambung), termuda yang terjadi di Bulan maret adalah ank dengan usia 2 tahun oleh Bapak kandungna. Sebelumnya,anak usi 6 thun ole kapolres Ngada, NTT. 

TANDA-TANDA
Bagaimana orangtua bisa menyadari putra – putrinya mengalami masalah mental? Berikut tanda – tandanya:
1. Kesulitan Mengendalikan Emosi : menjadi lebih sensitif, dan bisa marah atau sedih tanpa alasan jelas.
2. Mengalami Perubahan Perilaku : mudah tersinggung, mengamuk, atau kehilangan minat pada kegiatan biasa bisa jadi tanda masalah kesehatan mental.
3. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial : Anak remaja dengan gangguan kesehatan mental sering merasa cemas di tempat umum dan cenderung menarik diri dari keramaian.
4. Kehilangan Rasa Percaya Diri : Mereka mungkin merasa tidak berharga dan menyalahkan diri sendiri, sehingga melampiaskan dengan perilaku buruk seperti merokok atau menggunakan narkoba.
5. Prestasi Menurun : Minat yang hilang pada sekolah dan aktivitas lain dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan penurunan prestasi.
6. Gangguan Makan dan Tidur : Remaja dengan gangguan kesehatan mental bisa mengalami masalah tidur dan perubahan pola makan, berisiko obesitas.
7. Gangguan fisik : sakit kepala, nyeri otot, kelelahan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1. Pola Asuh yang ketat/ keras dan kurang komunikasi
2. Pola asuh permisif/memberikan kebebasan tanpa batas dan terkait dengan masalah emosional
3. Tekanan dari Teman Sebaya terutama melalui tekanan sosial
4. Rasa Syukur yang dengan Bersyukur bisa bikin hati lebih damai dan mental lebih kuat.
5. Perubahan Biologis pada Perempuan yaitu Pubertas, body image, dan gangguan makan

CARA PENCEGAHAN
Supaya dapat dapat membantu remaja mengekspresikan diri, membuat keputusan yang tepat, seperti mencari bantuan atau mengakhiri hubungan yang negative, yang membantu remaja fokus pada Tindakan, dapat meningkatkan kepercayaan diri dan pikiran positif serta mengalihkan pikiran dari hal negatif
1. Mengenali penyebab masalah
2. Berolahraga  seperti Bersepeda, yoga, atau sekadar jalan santai
3. Mengikuti hobi seperti melukis, bermain musik, atau menulis
4. Journaling tentang pikiran
5. Merawat diri dan melakukan relaksasi
6. Melakukan aktivitas positif yang disukai

REKOMENDASI
Kesehatan mental remaja bukan trending topic yang akan berlalu. Dengan 34.9% remaja Indonesia menghadapi tantangan mental, ini adalah pandemi tersembunyi yang membutuhkan perhatian kita semua.
Untuk remaja: Kalian tidak sendirian dalam pertempuran ini. Emosi yang bergejolak, perubahan mood, dan pikiran yang kacau bukan tanda kelemahan – ini adalah bagian dari perjalanan mendewasa. Yang penting, jangan ragu untuk mengulurkan tangan dan meminta bantuan.

Ingat, it’s okay not to be okay, but it’s not okay to stay that way! 💪❤️

(sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/)

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *