Menurut Awinullah Tsabit dari Kemenag Jatim yang hadir sebagai pembicara pertama, yang perlu dimoderasikan adalah cara atau perilaku umat beragama dalam mengekspresikannya di ruang publik dan bukan memoderasikan agama itu sendiri. Beliau menambahkan bahwa 4 indikator moderasi adalah toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, penerimaan terhadap tradisi.

Dr. Harissudin Aqib, Dosen UIN Surabaya, yang hadir sebagai pemateri 2 menambahkan dalam konsep etika dan moderasi beragama diibaratkan seperti kenek iwak e ora buthek banyune, yang bermakna ada kearifan tanpa harus membuat konflik, keributan ataupun sesuatu yang menyakitkan. Indah, rendah, dan berfaedah.

Indikator yang paling nampak dari kegiatan beretika dan moderasi beragama pada hari ini adalah saat kegiatan dimulai dengan doa. Kali ini doa tidak dipandu dan dipimpin oleh yang beragama Islam seperti yang selama ini terjadi tapi berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Meskipun demikian, ketika sambutan dari Ketua FKUB dan Bapak Samsul Huda selesai, ternyata masih ada doa yang dipimpin dan dipandu secara Islam. Penulis berpikir, bagaimana perasaan hadirin yang beragama selain Islam. Namun, inilah bukti riil toleransi dari para hadirin yang paling nampak pada kegiatan ini.


