Terdapat dua dalang cilik, Ahnap Novayi Hidayatullah,kelas 4 dan Vino kelas 5, keduanya masih belajar di SD Kartoharjo dan kelompok limbukan yang terdiiri dari Gilang (kelas 7 SMPN 5 Nganjuk), dito (kelas 2) dan Dewa (kelas 5). Berangkat dari segala keterbatasan pendanaan, fasilitas, anak -anak ini belajar otodidak dari apapun yang bisa mereka gapai. Mereka ceria sekali menjalani kehidupan sehari – hari yang kaadng – kadang kena hajar orangtuanya atau yang mengasuhnya karena kesalahan yang mungkin sepele. Anak – anak ini juga sama sekali tidak merengek -rengek ke orangtuanya untuk dibelikan segelas es teh meski hanya seharga 2 ribu karena mereka sangat memaham keadaan ekonomi keluarganya yang sehari – hari memperoleh rejekinya dari jualan penthol, gorengan, atau usaha – usaha kecil semacam itu.

Minggu malam ini (23/6/24), dengan lakon judul yang tidak terlalu jelas (Brotoseno Mukso?), kedua dalang tersebut tampil secara bergantian dengan semangat menggelora meski masih jauh dari sempurna, diiringi bunyi gamelan dari seperangkat sound system milik Wawan tadi. Bukan seperangkat alat gamelan! Sungguh mengharukan. Sering kali si dalang cilik menoleh ke Bapak Wawan menandai kenapa gending belum berbunyi saat Janoko akan berangkat mencari kakak nya yakni Brotoseno. Ternyata bapak Wawan nya masih sibuk mencari gendingnya di file musik di HPnya.
Suatu pemandangan yang mengghibur sekaligus mengharukan. Penonton yang jumlahnya 19 orang terdiri para orangtua dan tetangga itupun larut dalam kegembiraan. Sejenak melupakan penat kerja seharian.
Semoga Ibu Sri Handariningsih, Kepala Disporabudpar Nganjuk, bisa mewadahi bakat anak – anak Gang Tendean ini.


