Waktu baca: 3 menit
Parkinson itu apa?
Parkinson adalah gangguan saraf progresif yang terjadi akibat berkurangnya sel-sel saraf di otak yang memproduksi dopamin. Dopamin berperan penting dalam mengatur gerakan tubuh, keseimbangan, serta koordinasi otot. Saraf progresif? “Progresif” pada penyakit saraf berarti gangguannya cenderung bertambah atau berkembang seiring waktu, bukan sembuh sendiri. Pada Parkinson, sel-sel saraf tertentu di otak secara bertahap kehilangan fungsi atau berkurang jumlahnya. Akibatnya, gejala yang awalnya ringan dapat menjadi lebih jelas setelah beberapa tahun. Penyakit ini sering dikaitkan dengan lansia yang mengalami tremor (gemetar), padahal gejalanya jauh lebih luas. Penderita dapat mengalami gerakan yang melambat, langkah kaki menjadi pendek, tubuh membungkuk, wajah tampak kurang berekspresi, gangguan tidur, konstipasi, penurunan penciuman, hingga gangguan suasana hati.
Statistik Parkinson di Indonesia – Jawa Timur – Nganjuk
Di Indonesia, banyak kasus baru terdiagnosis setelah gejala sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Data pasti Parkinson di Indonesia masih terbatas karena belum semua kasus tercatat secara nasional. Berbagai penelitian memperkirakan prevalensi Parkinson berkisar antara 100–200 kasus per 100.000 penduduk, dan jumlahnya terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup penduduk.
Dengan populasi Indonesia yang menua, diperkirakan terdapat ratusan ribu penyandang Parkinson di seluruh Indonesia.
Untuk Jawa Timur maupun Kabupaten Nganjuk, belum tersedia data resmi yang dipublikasikan secara khusus. Namun tren yang terjadi mengikuti pola nasional: jumlah kasus meningkat terutama pada kelompok usia di atas 60 tahun.
Dokter saraf menilai angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena sebagian penderita menganggap gejala awal sebagai “proses penuaan biasa” sehingga tidak memeriksakan diri.
Parkinson BUKAN Penyakit Mematikan
Parkinson bukan penyakit terminal seperti kanker stadium akhir yang secara langsung menyebabkan kematian dalam waktu tertentu.
Banyak penderita dapat hidup 10–20 tahun bahkan lebih setelah diagnosis, terutama jika mendapatkan pengobatan, rehabilitasi, dan dukungan keluarga yang baik.Namun Parkinson bersifat progresif. Seiring waktu, penderita dapat mengalami:
- Gangguan keseimbangan dan sering jatuh.
- Kesulitan berjalan.
- Gangguan menelan.
- Risiko pneumonia akibat makanan atau cairan masuk ke saluran napas.
- Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Karena komplikasi tersebut, kualitas hidup dapat menurun bila tidak ditangani dengan baik.
Parkinson bisa dicegah?
Hinggasaat ini belum ada cara yang terbukti dapat mencegah Parkinson secara mutlak. Meski demikian, sejumlah penelitian menunjukkan beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga kesehatan otak dan menurunkan risiko gangguan neurodegeneratif:
- Rutin berolahraga.
- Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
- Tidur yang cukup.
- Menghindari paparan pestisida dan bahan kimia berbahaya secara berlebihan.
- Menghindari cedera kepala berulang.
- Tetap aktif secara sosial dan mental.
Faktor yang Membuat Parkinson Makin Parah
Beberapa faktor dapat mempercepat penurunan fungsi atau memperberat gejala Parkinson, antara lain:
- Tidak teratur minum obat.
- Kurang aktivitas fisik.
- Kurang tidur.
- Stres berkepanjangan.
- Infeksi berat.
- Malnutrisi atau kurang asupan gizi.
- Jatuh berulang yang menyebabkan imobilisasi.
- Penyakit penyerta seperti stroke, diabetes, atau gangguan jantung.
Faktor yang Membantu Mengurangi Gejala Parkinson
Meski belum dapat disembuhkan, gejala Parkinson sering kali dapat dikendalikan dengan cukup baik melalui:
- Pengobatan sesuai anjuran dokter saraf.
- Fisioterapi dan latihan keseimbangan.
- Jalan kaki rutin.
- Senam ringan atau tai chi.
- Tidur yang teratur.
- Asupan protein, sayur, buah, dan cairan yang cukup.
- Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Parkinson bukan sekadar penyakit “orang tua yang gemetar”. Penyakit ini merupakan gangguan saraf progresif yang memengaruhi gerakan, keseimbangan, bahkan fungsi nonmotorik seperti tidur dan suasana hati. Meskipun belum dapat disembuhkan, diagnosis dini, pengobatan yang tepat, olahraga teratur, serta dukungan keluarga dapat membantu penyandang Parkinson tetap aktif dan mempertahankan kualitas hidup selama bertahun-tahun



