Waktu baca: 4 menit
6 April 2023
The Nganjuk Post. Nganjuk.
Cancelled culture merujuk pada fenomena menegur dan mempermalukan individu atau organisasi secara terbuka atas kesalahan yang dianggap dilakukan oleh individu atau organisasi, sering kali di media sosial. Mulai popular di Amerika Serikat di awal tahun 2010-an, tetapi memperoleh momentum sekitar tahun 2017-2018 dengan munculnya platform media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, cancelled culture di Indonesia mempunyai makna yang hampir sama dengan kata Viralkan yang sering dijadikan alat ancam bagi sebagian kalangan apabila ada sesuatu yang tak sesuai dengan norma sosial dan agama dan aparat penegak hukum dianggap abai terhadap penegakan hukum. Misalnya, kejadian Kapolres Ngada yng melakukan pelechan seksual terhdp anak dibawah umur. Kejadian di bulan Pebruari inipun baru diungkap di bulan Maret setelah viral di media sosial. Atau sebagai alat propaganda terhadap kejadian/ peristiwa yang bisa dijadikan ainsprasi namun tidak. Maka tak ayal, viralkan menjadi sebuah pilihan.
Mengapa
Beberapa alasan berikut mungkin bisa menjadi bahan pemikiran kita.
1. Akuntabilitas: Untuk meminta pertanggungjawaban orang yang berkuasa atas tindakan mereka.
2. Keadilan sosial: Untuk menarik perhatian pada ketidakadilan sosial dan mempromosikan kesetaraan, ketika hukum tidak ditegakkan seperti yang seharusnya.
3. Standar komunitas: Untuk menegakkan standar dan norma komunitas.
Hampir sama dengan viralkan, dalam Cancelled Culture, yang berikut akan terjadi, yakni:
1. Kecaman publik: Seseorang melakukan kesalahan yang dianggap dilakukan, dan publik menjadi marah.
2. Mobilisasi media sosial: Orang-orang menggunakan media sosial untuk mengekspresikan kemarahan mereka, menggunakan tagar dan menandai pelaku.
3. Menuntut pertanggungjawaban: Publik menuntut pertanggungjawaban dari pelaku, sering kali dalam bentuk permintaan maaf atau pengunduran diri.
4. Konsekuensi: Pelaku dapat menghadapi konsekuensi, seperti kehilangan pekerjaan, kerusakan reputasi, atau kerugian finansial.
Mungkin masih ingat pada kejadian di tahun 2018 di Amerika Serikat saat Roseanne Barr nge tweeet, mencuitkan komentar rasis tentang Valerie Jarrett, yang menyebabkan kemarahan luas dan pembatalan acara TV-nya? juga R. Kelly yang pada tahun 2019 menghadapi tuduhan pelecehan seksual, yang menyebabkan kemarahan luas dan pembatalan kontrak dan tur musiknya.
Di Indonesia, fenomena Cancel Culturejuga telah terjadi, terutama di kalangan masyarakat online. Banyak kasus di mana seseorang atau kelompok dihukum atau dikecam secara sosial karena melakukan atau mengucapkan sesuatu yang dianggap tidak pantas atau tidak sesuai dengan norma sosial.
Namun, perlu diingat bahwa cancel culture di Indonesia juga memiliki konteks yang unik dan kompleks, terkait dengan budaya, agama, dan politik di negara ini.
Berikut contoh kasus Cancel Culture di Indonesia yang terbesar dengungnya adalah kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan, seorang penyelidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang dikecam dan diancam oleh sekelompok orang setelah ia menyelidiki kasus korupsi. Belum lagi, kasus penangkapan dan penindakan terhadap beberapa aktivis dan penggiat sosial media yang dianggap melakukan ujaran kebencian atau penyebaran informasi palsu. Juga, kasus boikot terhadap beberapa artis dan selebriti yang dianggap melakukan kesalahan atau memiliki pandangan yang tidak sesuai dengan norma sosial.
Beberapa contoh tersebut menunjukkan bahwa Cancel Culture di Indonesia dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap individu dan kelompok yang dianggap melakukan kesalahan.
Kritik dan Rekomendasi:
1. Cancel Culture & viralkan cenderung melihat pada kulit masalah dan gagal memperhitungkan kompleksitas dan konteks/ akar masalah. Ruang debat publik pun menjadi ajang sumpah serapah kedua kubu yang bersebrangan. Menjadi warga negara yang sabar menjadi sebuah keistimewaan sat ini.
2. Cancel Culture & viralkan dapat berubah menjadi mentalitas massa, di mana orang-orang cepat mengutuk tanpa sepenuhnya memahami situasi. Dalam bahasa jawa, ”wanine lek enek kancane”.
3. Cancel Culture & viralkan dapat memiliki efek pada kebebasan berbicara, karena orang mungkin menjadi ragu untuk mengekspresikan diri karena takut “di delete/dihapus.” Oleh sebab iitu, selalu penuhi dab bicara/ menulis dalam ruang publik.
The best advice is take down/ hapus all your social media. Jika anda berpikir semua influencer itu jujur, alangkah senangnya pemimpin dunia mempunyi warga negara yang begitu mudah terdistraksi oleh sesuatu yang akan sangat mudah dihapus. Halooo, bagaimana kabarnya kepala babi? Hanya remaja yang critical thinking nya berjalan baik lah yng akan memahami situasinya. Karena, hanya keledai bodoh yang melakukan kesalahan yang exactly sama! Atau itu cara maling supaya dikata tidak maling? Ah, sudahlah. Don’t take it seriously. Nobody exists by the end of the world, bukan?



