Permasalahan distribusi pupuk, beras, dan nasib petani yang dalam beberapa kesempatan tatap muka dengan mentan Amran sulaiman Nampak begitu tak pasti, mengurangi nilai capaian Kementan secara umum yang mampu menorehkan sejarah emas karena membuat lompatan besar dalam menywasembada-pangankan Republik ini pada April 2025 lalu.
Namun, ketika pagi – pagi ada pesan masuk ke kotak pesan whatssap milik redaksi Thenganjukpost.com yang mempertanyakan mengapa dan bagaimana distribusi dan pengelolaan beras medium di kabupaten Nganjuk, akhirnya terkuaklah hal-hal yang menjadi tantangan di dunia pangan, kalau tidak mau disebut sebagai beban negara. Masalah apalagi kalau bukan korupsi yang memang sudah mengakar urat di negeri penuh kecambah ini. Parahnya, korupsi nya dibidang pangan, yang nota bene di Republik ini semua orang membutuhkan, mengkonsumsinya. Jadi Pak Mentan, Bapak benar sekali! mereka ini benar – benar biadab! Suatu bidang dimana kita sering berkata rasanya belum makan kalau belum makan nasi meski perut kenyang kebanyakan makan lontong sayur.

Meminjam istilah dari Bapak Mentan, berikut adalah gambaran kebiadaban mereka. Selain beras oplosan tersebut, ternyata pemalsuan pupuk dengan distribusinya yang mban cinde mban emban, merugikan negara sebesar Rp 99 triliun atau hampir Rp 100 triliun per tahun! Hal ini seperti yang disampaikan Pak Menteri padakegiatan dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI 16 Juli 2025.
Secara lebih detil temuan dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan temuan mengejutkan terkait penyimpangan dalam distribusi beras nasional. Bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) menemukan 212 merek beras yang diduga tidak sesuai dengan standar kualitas, mutu, dan volume yang berlaku. Beras curah dijual premium, beras medium dijual premium.



