Oleh: Sari Wulandari. Guru SMA IC BAIZ.
Waktu baca 3 menit
Pada 23 dan 25 Juli 2026 Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Nganjuk menggelar nonton bareng (nobar) film Children of Heaven di Sam’s Studio Nganjuk. Seusai membagikan dokumentasi kegiatan tersebut di media sosial, banyak teman mengira film yang kami tonton adalah Children of Heaven versi Iran karya sutradara Majid Majidi (1997), film legendaris yang pernah meraih nominasi Academy Award kategori Best Foreign Language Film. Dugaan itu dapat dimaklumi karena film garapan Hanung Bramantyo yang tayang pada 27 Mei 2026 memang merupakan adaptasi dari karya tersebut.
Synopis:
Konflik film ini sangat sederhana: Ali kehilangan sepatu sekolah adiknya, Zahra. Namun, bagi keluarga miskin, kehilangan sepasang sepatu berarti hilangnya kesempatan bersekolah dengan layak. Demi mengatasi masalah itu, Ali dan Zahra bergantian memakai satu-satunya sepatu yang tersisa. Zahra mengenakannya saat sekolah pagi, lalu berlari pulang agar Ali dapat memakainya ke sekolah siang.
Kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan Children of Heaven. Film ini tidak memaksa penonton menangis, tetapi mengajak melihat kehidupan apa adanya. Tatapan mata, langkah kaki, dan keheningan justru lebih berbicara daripada dialog panjang. Majid Majidi sebenarnya tidak sedang berkisah tentang kemiskinan, melainkan tentang martabat, tanggung jawab, dan kasih sayang dalam keluarga.
Puncak cerita hadir melalui lomba lari yang diikuti Ali. Baginya, kemenangan bukan soal menjadi juara, melainkan memperoleh hadiah sepasang sepatu untuk Zahra. Di sinilah makna kemenangan berubah: kebahagiaan terbesar sering kali lahir dari pengorbanan bagi orang yang kita cintai.



