Resensi film:Children of Heaven: Ketika Sepasang Sepatu Menjadi Pelajaran tentang Kasih Sayang dan Kesederhanaan

Meski mengikuti alur yang sama, Hanung Bramantyo menghadirkan sentuhan berbeda. Latar dipindahkan ke Indonesia pada masa Orde Baru dengan nuansa budaya lokal yang kuat, termasuk latar SD Muhammadiyah tempat Zahra bersekolah. Dibanding versi Iran yang lebih simbolis, adaptasi Indonesia terasa lebih komunikatif dan eksplisit.

Film ini juga diselingi humor yang segar, terutama melalui dialog berpantun kepala sekolah dan penampilan Dodit Mulyanto sebagai guru Ali. Hanung turut menyisipkan kritik sosial secara halus, misalnya ketika ayah Ali melarang anaknya memakan telur untuk posyandu sambil berkata, “Jangan makan yang bukan hak kita.” Kalimat sederhana itu menjadi pesan kuat tentang kejujuran di tengah berbagai persoalan moral yang masih kita hadapi.

Secara keseluruhan, Children of Heaven versi Hanung Bramantyo adalah film yang hangat, menghibur, sekaligus menyentuh. Berbeda dengan akhir versi Iran yang dibiarkan terbuka, Hanung memperlihatkan secara jelas hadiah sepatu baru bagi Ali dan Zahra sehingga penutup terasa lebih optimistis. Film ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur, kejujuran, empati, dan kasih sayang. Karena itu, film ini layak ditonton bukan hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan para pemimpin. Karena, di tengah dunia yang sibuk mengejar apa yang dimiliki, Children of Heaven mengingatkan kita untuk kembali menghargai apa yang sering terlupakan: kejujuran, pengorbanan, dan kasih sayang. Barangkali itulah sebabnya, hampir tiga dekade setelah lahir di Iran dan kini dihidupkan kembali di Indonesia, kisah sepasang sepatu itu tetap sanggup mengetuk hati siapa pun yang menontonnya Nilai: ★★★★★ (5/5).

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *