Jadi Remaja Keren Itu Saat Bisa Menjaga dan Menghargai Sesama

Dalam kegiatan tersebut, hadir Bupati Nganjuk, Bapak Marhen Djumadi yang memberikan sambutan pada pembukaan acara, turut memberikan pesan yang begitu dekat dengan kehidupan anak muda. Beliau menyampaikan bahwa salah satu kunci sukses adalah berani punya mimpi tinggi. Karena saat seseorang berani bermimpi besar, maka ia juga akan terdorong untuk berusaha lebih keras demi mencapainya. Namun, mimpi dan usaha saja tidak cukup. Beliau menegaskan bahwa karakter dan nilai keagamaan harus menjadi pondasi utama dalam menjalani kehidupan. Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana seseorang bisa menjadi contoh yang baik bagi lingkungan sekitarnya. Beliau juga mengajak para siswa untuk membiasakan budaya diskusi dan memperbanyak kegiatan positif bersama. Dengan komunikasi yang baik, pertentangan dan konflik bisa diminimalisir. Dan dari semua itu, agama tetap menjadi dasar terpenting dalam membentuk sikap dan cara memperlakukan sesama manusia.

Selanjutnya materi disampaikan oleh dr. Widhi Nastiti Trihandy, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nganjuk, menyampaikan harapannya agar angka kekerasan seksual maupun kekerasan verbal di kalangan remaja Kabupaten Nganjuk dapat terus berkurang. Ia juga berharap siswa-siswi Baiz mampu menjadi pelopor sekaligus contoh positif bagi remaja lainnya. Menurut beliau, generasi muda hari ini harus tumbuh bukan hanya menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Harapan tersebut sejalan dengan visi SMA Islam Insan Cendekia Baitul Izzah yang ingin membentuk generasi berprestasi dengan akhlak yang kuat.

Suasana semakin hangat ketika Gigih Satriya Rahendra dari Forum Ayah Jawa Timur menyampaikan materi tentang pentingnya membangun keluarga bahagia. Beliau mengingatkan bahwa peran ayah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tentang kehadiran dan kedekatan emosional dengan anak. Menurutnya, ayah perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, membersamai proses tumbuh kembang mereka, dan menciptakan komunikasi yang sehat di dalam keluarga. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi para siswa tentang betapa besar pengaruh perhatian keluarga terhadap kebahagiaan dan kesehatan mental remaja.

Pada sesi terakhir, Saraswati Eva Yuswikarini, S.Psi., M.Psi., hadir sebagai psikolog yang membahas kesehatan mental remaja. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa bullying tidak selalu berbentuk fisik. Bullying verbal seperti hinaan, ejekan, body shaming, dan ucapan merendahkan juga dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam. Materi yang disampaikan terasa begitu relate dengan kehidupan remaja saat ini, terutama di era media sosial ketika komentar dan candaan sering kali dianggap biasa padahal dapat menyakiti orang lain. Para siswa diajak untuk lebih peka terhadap ucapan dan perilaku sehari-hari, sekaligus belajar menjadi teman yang hadir, peduli, dan berani membantu ketika melihat tindakan kekerasan terjadi. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, sains, atau teori di dalam kelas. Sekolah juga menjadi tempat belajar tentang empati, kepedulian, dan cara menghargai orang lain sebagai sesama manusia. Karena pada akhirnya, remaja hebat bukanlah mereka yang paling terkenal atau paling ramai di media sosial. Remaja hebat adalah mereka yang mampu menjaga sikap, menghargai sesama, dan menghadirkan rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *