JANGAN LUPA BAHAGIA

Waktu baca: 3 menit

Tiga kata  ini semakin hari semakin mejadi sebuah kemutlakan. Bahkan semua lapisan masyarakat, tua – muda, seperti terkena sihir oleh tiga kata ampuh ini. Padahal,  Bahagia itu apa, bagaimana dan mengapa belum ada yang pernah bisa memberikan jawaban yang memuaskan bahkan bagi yang memberi jawban itu sendri.

Sebagian masyarakat  yang mendamba kenikmatan dunia (hedonis) menyatakan Bahagia adalah bila segala kebutuhan tercukupi, sehat dan ayem. Tapi, menurut filsuf Yunani kuno, Epikuros, Bahagia itu bukanlah pesta pora, tapi kedamaian. Bahagia bisa ditemukan dalam persahabatan yang tulus, makanan yang cukup, dan hidup yang tenang. Ia bahkan berkata, “Jika kamu ingin kaya, jangan menambah harta, tapi kurangi keinginan.”

Berbeda dengan Epikuros yang meninggal di usia 121 tahun (270 SM), Aristoteles, berpandangan bahwa kebahagiaan itu eudaimonia yakni manusia bertindak sesuai dengan kebajikan (virtue). Menurutnya, bahagia bukanlah sekadar merasa senang,tapi menjadi orang baik dan menjalani hidup yang bermakna. Seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati, atau seorang petani yang merawat tanah dengan cinta adalah orang yang bahagia karena mereka hidup selaras dengan nilai dan kebajikan. Namun wajib diingat bahwa dalam dunia modern yang sering menilai kebahagiaan dari pencapaian materi, kualitas karakter dan makna dari apa yang kita lakukan adalah yang terpenting.

Bagi Epikuros, dengan konsep Epikureanisme menyatakan bahwa berbanding terbalik dengan hedonis dalam arti liar, menurutnya kebahagiaan adalah hidup yang bebas dari rasa sakit (aponia) dan keresahan batin (ataraxia), dengan  mengajarkan kenikmatan yang bijak dan sederhana.

jadi, jka healing dan flexing  atau apapun itu bisa  membuat kita merasa nyaman, damai, tidak kemrungsung, maka just do it. Tapi, satu hal yang perlu dipikrkan adalah apakah kegiatan yang kita lakan itu berakibat sebaik yang kita rasakan atau justru sebaliknya. Maka, jika korupsi, yang sudah berkecambah kemana – mana dan menghajar hajat hidup orang banyak (di sepanjang 2024 – 2025 ini: mega korupsi di Tambang timah, Pertamina, kementrian Peranian), tak pernah dimaknai oleh anak keturunan Sang Koruptor sebagai tindakan tanpa moral, biadab dan tak berkarakter baik demi healing dan flexing, Planet Bumi ini memang dipenuhi oleh kaum hipokrit, munafik. Bukankah ibadah kita sudah sangat bagus, tempat ibadah ada di setiap jengkal tanah, suara adzan dan orang tadarus bergema dimana – mana?  Tapi, nampaknya kita semua lupa bahwa Tuhan itu Maha Tahu dan menunggu.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *