







Sebaliknya,SMA tampil maksimal meskipun dalam peniaian kami, tidak semua. Contoh SMA Diponegoro yang tidak berpartisipasi tanpa alasan. padahal seharusnya tampil nomer 11. dan, pemkab bisa apa? Nothing! Belum lagi SMA IC BAIZ yan nampaknya sudah tidak tetarik tampil dalam kegiatan seperti ini. Berbeda dengan SMK PGRI 1, mungkin sekolah yang menolak berpartisipasi itu mengira yang menang itu -itu terus. Sekolah yang tidak mau berpartisipasi mungkin juga karena mereka berpikir lebih baik bayar denda (kalau ada) daripada mengeluarkan dana yang lebih besar untuk biaya karnaval dan lain-lainnya.
Rekomendasi
- Sebagai penonton, sungguh sangat membosankan karena jarak antar barisan yang terlalu lama. Hilangkan semua performance didepan tamu undangan.
- Pada waktu siaran langsung di youtube, staf humas Pemkab berperilaku sangat tidak patut untuk dicontoh dengan terus ngobrol dengan sengaja. Belum lagi pada waktu doa dan seterusnya. Benar – benar perilaku yang patethic!
- Karnaval Tingkat SMA / SMK harus diakui sebagai yang paling spektakuler. Meriah. Maka, melihat gelagat SMA Diponegoro yang tidak tampil belum lagi jika penolakan mereka diikuti oleh sekolah yang lain nanti, lebih baik desain karnaval diganti dengan yang lebih elegan praktis tanpa membuang kesempatan kaum marjinal mengais rejeki. Harus ada Langkah pembaharuan agar Pemkab Nganjuk tidak kehilangan muka juga. Bukankah SMA/ SMK dalam kewenangan Gubernur?
- Para pendamping karnaval dan penonton sama – sama menjengkelkan. Kalau tingkat TK SD atau SMP, masih bisa diterima. Tingkat SMA/ SMK? Sedangkan penonton dengan seenaknya menghentiakn peserta karnaval dan minta foto bersama tanpa ada sawerean sama sekali untuk peraga nya.
Begitulah, jika rutinitas sudah mulai membosankan. meskipun, Agustusan memang kegiatan yang sangat mehenankan.atau kita adalah warag negara yang nr2 belum bosan dengan Agustusan. Coba tengok peringatan 4 july di USA dan lainnya.






