Masih ingat film yang dibuat berdasarkan novel yang ditulis oleh Andrei Hirata dengan judul yang sama? Yups, benar sekali! Laskar Pelangi! Sebuah film yang sangat populer di era awal 2000 an. Film ini memberi contoh petemanan yang positif. Contoh pertemanan yang negatif? Tawuran antar remaja/ pelajar di Jakarta, Jawa Barat, juga kasus klithih di Yogya. Bagaimana dengan di Nganjuk? Ada perang antar kelompok persilatan apapun alasannya, bukanlah model pertemanan yang sehat. Berkonvoi dengan sepeda otor yan serinkali tanpa helm.
Dampak
Pertemanan dan persahabatan memiliki peran krusial dalam perkembangan remaja, terutama dalam membentuk kesejahteraan mental dan emosional mereka. Hubungan yang sehat dengan teman sebaya dapat memberikan dukungan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan membantu remaja mengatasi berbagai tantangan hidup.
Dampak pertemanan yang toxic
- Mental tidak sehat, menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi.
- penurunan harga diri, kesulitan dalam membuat keputusan, serta peningkatan risiko terhadap perilaku merusak diri. Menghambat perkembangan sosial mereka dan bahkan mengarah pada isolasi dari lingkungan yang lebih positif.
Dukungan dari orang tua, sekolah, dan komunitas sangat penting dalam membantu remaja mengenali tanda-tanda pertemanan yang toxic dan mencari solusi yang sehat. Pendidikan mengenai keterampilan sosial, seperti menetapkan batasan dan mengelola konflik, dapat membekali mereka dengan kemampuan untuk memilih teman yang membawa pengaruh positif. Program sekolah yang mendorong komunikasi terbuka dan memberikan dukungan emosional juga berperan dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja.
Rekomendasi
- Membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya selain hanya soal memiliki teman untuk berbagi cerita, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem sosial yang mendukung kesejahteraan mental.
- Dengan pertemanan yang positif, remaja dapat tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri, berdaya tahan, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan optimisme.
- Pilih teman dengan bijak. Bukan hanya soal kenyamanan sosial—tetapi juga tentang menjaga kesehatan mental dan masa depan yang lebih cerah.



