MENDADAK PUJANGGA

Di era serba bisa dan tersambung tanpa kabel, mendadak semua orang berbahasa dengan rima. Bahasa—anugerah dari Yang Maha Kuasa—kini jadi pusat perhatian semesta. Tak heran bila penulis besar seperti Andrea Hirata, Tere Liye, atau Dee Lestari terasa melempem di zaman ini: zaman ketika semua orang merasa berhak menulis pikirannya, bahkan menasihati kepala desa hingga presiden pun bagaimana cara mengatur negara. Zaman yang luar biasa karena kita menjadi warga negara yang menjelma menjadi warga dunia maya dengan suka rela! Asal tahu, menjadi warga sebuah negara bukan sesuatu yang mudah.  Bahkan, Presiden ke 5 RI pernah berkata Presiden ke 8 pernah menjadi warga tanpa negara…alias stateles sebelum si Ibu memberinya kewarganegaraannya kembali.

Dilain sisi, kita melihat kecrigisan seseorang yangselama ini kita ketahui sebagai somebody yang sepi – sepi saja bicaranya namun nge-tweet kesana sini dengan intonasi yang menyayat hati which is gak mungkin kan?  Bagaimana mungkin tulisan yang mewakili pikiran memiliki intonasi? Well, karena sekecil apapun sebuah kata, yang perlu kita pahami adalah bahwa, setiap kata mempunyai makna. Dan, karena makna yang tersusun rapi itulah, intonasi terbentuk.

Dalam hal Mendadak Pujangga: siapa yang paling untung dan buntung dalam situasi ini? Pastilah mereka yang (merasa) menjadi panutan! Politikus? Mungkin. Motivator? Sangat! Pendakwah? Wah..sudahlah. Mungkin, mereka sadar kalimatnya akan dikutip disana sini tanpa perlu bayar royalti. Belum lagi , mungkin mereka mempunyai wajah nan menawan, ataupun self branding dengan penampilan yang rendah hati. Jadi mungkin saja, bukan urusan mereka apakah makna dibalik meledak-ledaknya kata yang digunakannya dipahami atau tidak oleh pengikutnya, masyarakatnya. Buktinya, mengapa korupsi masih terus terjadi, perselingkuhan makin terbuka seperti sebuah irik lagu jadikan aku yang kedua...dan mengapa pula makin sering terdengar di berita tentang para pesohor (moralis, agamis, politikus: apapun bidang mereka) yang melakukan kejahatan moral?

Jika bahasa bagian dari budaya, lalu siapa pencipta bahasa, dan siapa pencipta budaya? Mungkin kaum pria… bukankah mereka penguasa dunia karena kekuatan kodrati yang dimilikinya, sehngga mereka bisa menamai dunia seenak jidatnya.

Catatan tambahan:

Berikut ungkapan yang patut kita renungkan:

Buya Hamka“Kalau kerja sekadar kerja, monyet di hutan juga bekerja. Kalau hidup sekadar hidup, babi juga hidup.”Mengapa kera dan babi? Apa hakikat hidup?
Chairil Anwar“Hidup sekali, berarti, lalu mati.”Mengapa mati dianggap makna?
Budi Darma“Kesepian adalah hasil dari kesadaran.”Sepi itu apa?

===000===

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *