Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental bagi Mahasiswa di Tengah Padatnya Aktivitas

Saat ini, isu kesehatan mental menjadi perbincangan yang sering diangkat di publik. Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan psikologis yang memungkinkan individu untuk mengatasi tekanan dalam kehidupannya. Namun, banyak pihak yang seringkali menganggap remeh kesehatan mental dan menilainya tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan manusia, terutama remaja. Sejumlah remaja mengalami gangguan kesehatan mental karena kurangnya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, yang menyebabkan mereka stres dalam menghadapi masalah secara sendiri.

Mahasiswa kerap mengalami gangguan kesehatan mental yang dipicu oleh beberapa faktor, seperti keluarga, pertemanan, pendidikan, dan lainnya. Faktor-faktor tersebut dapat berdampak positif maupun negatif. Mereka sering melupakan pentingnya kesehatan mental karena terlalu fokus pada tugas-tugas perkuliahan. Hal ini dapat memicu gangguan kesehatan mental dan menyebabkan stres berkepanjangan. Kesehatan mental memiliki peran penting bagi mahasiswa baru dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Perubahan kebiasaan dari SMA ke kuliah yang terjadi secara cepat membuat mahasiswa belum terbiasa dengan kebiasaan baru dan harus mengubah kebiasaan buruk dari SMA agar tidak melakukan kesalahan di lingkungan perkuliahan.

Menurut penelitian internasional, kesehatan mental pada mahasiswa menjadi permasalahan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, masalah kesehatan mental pada mahasiswa sering terjadi. Sejak pandemi COVID-19, kesehatan mental mahasiswa perlu mendapat perhatian lebih lanjut karena tercatat 63,6% kasus kecemasan dan gangguan kesehatan mental mahasiswa akibat pandemi tersebut.

Gangguan kesehatan mental dapat muncul kapan saja, baik saat memasuki dunia perkuliahan karena mengalami guncangan budaya dari SMA ke kuliah, maupun pada mahasiswa yang menjelang semester akhir karena terbebani berbagai hal dalam perkuliahan. Gangguan ini juga dapat muncul saat mahasiswa merantau ke kota lain dan tinggal sendiri tanpa kerabat, serta saat mengingat keluarga yang ditinggalkan sehingga merasa tidak sanggup melanjutkan kuliah karena kendala dari keluarga.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *