Project I-MAN SMP Islam Baitul ‘Izzah: Saat Kemerdekaan, Maulid Nabi, dan Bahasa Inggris Bertemu dalam Satu Gerakan

Memaknai Kemerdekaan dari Indonesia hingga Palestina

Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam Project I-MAN adalah Community Session: Understanding Freedom melalui seminar “The Meaning of Freedom: From Indonesia to Palestine.” Sesi tersebut menghadirkan Ms. Sujood, mahasiswi asal Palestina, sebagai guest speaker. Dengan menggunakan Bahasa Inggris, para siswa diajak berdiskusi mengenai makna kemerdekaan, perdamaian, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama.

Tidak berhenti pada isu kemerdekaan dan kemanusiaan, sesi ini juga memperkenalkan budaya serta tradisi perayaan Maulid Nabi di Palestina. Siswa mendapatkan wawasan mengenai bagaimana masyarakat Palestina memperingati kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, nilai-nilai keislaman yang terkandung di dalamnya, serta persamaan dan perbedaan tradisi Maulid antara Indonesia dan Palestina.

Dari Indonesia hingga Palestina, siswa diajak memahami bahwa faith, freedom, unity, peace, dan humanity dapat menjadi nilai universal yang mempererat persaudaraan.

Malam Hari, Bahasa Inggris Berubah Menjadi Sebuah Petualangan

Keseruan Project I-MAN berlanjut pada malam hari melalui English Adventure: Treasure Hunt. Setelah Sholat Maghrib, makan malam, dan Sholat Isya, peserta mengikuti Night Briefing: Mission Begins! Mereka mendapatkan penjelasan mengenai aturan permainan, rute dan pos, pembagian kelompok, score card, serta English Mission Card.

Selanjutnya, setiap kelompok bergerak menuju berbagai English Mission Stations. Di setiap pos, siswa harus menyelesaikan misi yang dirancang untuk melatih kemampuan speaking dan vocabulary.

Suasana belajar pun berubah menjadi lebih dinamis. Bahasa Inggris digunakan dalam komunikasi antarsiswa ketika mereka berusaha menyelesaikan tantangan bersama.

Setelah seluruh misi selesai, setiap kelompok mengikuti Mission Review & Team Score Announcement. Mereka mengumpulkan score card, melakukan refleksi, dan berbagi pengalaman selama mengikuti English Adventure.

Tahajud dan English Speaking Challenge

Meski dikemas dalam konsep camp yang penuh aktivitas, aspek pembiasaan ibadah tetap menjadi bagian penting. Setelah waktu istirahat, panitia melakukan monitoring terhadap keamanan dan kondisi peserta. Pada pukul 03.30, siswa dibangunkan untuk melaksanakan Sholat Tahajud, kemudian dilanjutkan dengan Sholat Subuh.

Pagi harinya, aktivitas kembali dimulai melalui Morning Exercise: Move & Speak! Setelah senam ringan, siswa mengikuti English Speaking Challenge melalui latihan morning greeting, asking and answering questions, serta penggunaan positive expressions. Aktivitas ini menjadi sarana untuk membangun keberanian berbicara Bahasa Inggris dalam situasi sehari-hari.

Sarapan bersama pun dikemas dalam suasana English Area. Siswa didorong menggunakan percakapan sederhana dalam Bahasa Inggris dengan expressions yang telah dipelajari. Sebelum memasuki agenda utama, siswa melaksanakan Sholat Dhuha berjamaah dan dzikir.

“Voices of Humanity”, Suara Siswa untuk Kemanusiaan

Puncak Project I-MAN ditandai dengan Mini Concert for Palestine: “Voices of Humanity.”

Setiap kelompok menampilkan karya mereka dalam bentuk choir singing, yang terdiri atas lagu-lagu dukungan untuk Gaza, lagu Nusantara, serta sholawat. Penampilan tersebut turut disaksikan oleh wali murid SMP Islam Baitul ‘Izzah. Panggung tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menyampaikan pesan kemanusiaan. Melalui seni, Bahasa Inggris, dan nilai-nilai Islam, para siswa belajar bahwa kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui berbagai cara.

Lebih dari Sekadar English Camp

Project I-MAN menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris dapat hadir dalam pengalaman yang lebih luas. Bahasa Inggris tidak ditempatkan hanya sebagai materi akademik, tetapi sebagai media komunikasi, kolaborasi, pengenalan keberagaman, dan penyampaian pesan kemanusiaan.

Integrasi HUT RI ke-81, Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, dan English Camp menjadikan kegiatan ini memiliki dimensi yang lebih lengkap: siswa belajar mencintai bangsa, meneladani Rasulullah ﷺ, meningkatkan kemampuan komunikasi, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan global.

Pada akhirnya, Project I-MAN bukan hanya tentang bagaimana siswa berbicara dalam Bahasa Inggris, tetapi juga tentang apa yang mereka sampaikan melalui bahasa tersebut. Dengan semangat “Celebrating Faith, Freedom, and Unity through English”, SMP Islam Baitul ‘Izzah berharap pengalaman ini dapat membentuk generasi yang beriman, percaya diri berkomunikasi, mencintai bangsa, menghargai keberagaman, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan dunia.

Satu project, tiga momentum, satu semangat: menumbuhkan generasi Muslim yang mampu menyuarakan iman, kemerdekaan, persatuan, dan kemanusiaan kepada dunia.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *