Di Rumah Hamka Malaysia, para siswa mengikuti diskusi buku tentang pemikiran Buya Hamka. Refleksi tentang westernisasi, moralitas, dan identitas bangsa menjadi bahan renungan yang memperkaya kepekaan intelektual mereka.
Belajar dari Masyarakat: KLCC, Central Market, dan Genting Highlands
Tidak hanya belajar di ruang kelas, peserta juga menyerap pengetahuan melalui interaksi sosial dan budaya di Malaysia. Dari keramaian KLCC, suasana tradisional Kampung Baru, hingga hawa dingin Genting Highlands, para siswa merasakan keberagaman gaya hidup dan nilai masyarakat Malaysia. Semua itu menjadi laboratorium sosial yang mengajarkan mereka tentang toleransi, disiplin, dan budaya urban yang dinamis.
Seminar Internasional & Festival of Ideas: Puncak Perjumpaan Gagasan
Puncak rihlah berlangsung di CASIS–UTM Kuala Lumpur pada 17–19 November. Di sinilah para siswa memasuki forum ilmiah internasional yang mempertemukan pelajar dan akademisi dari Indonesia dan Malaysia.
Hari Pertama: Merunut Sejarah Peradaban
Seminar dibuka oleh Prof. Dr. Tatiana Denisova, pakar sejarah Melayu-Islam. Beliau mengajak peserta melihat bagaimana nilai-nilai Islam membentuk karakter dan trajektori peradaban di kawasan ini. Sesi dilanjutkan dengan kuliah oleh Dr. Khalif Muammar, yang menekankan pentingnya ilmu dalam membangun masyarakat beradab.
Hari Kedua: Sumbangan Pemikiran Islam
Hari kedua diisi paparan dari Dr. Mohd Farid Mohd Shahran dan Dr. Mohd Hilmi Ramli. Materi mereka memperkaya pandangan peserta tentang peran ilmu dalam merespons tantangan zaman modern. Pada sesi presentasi, pelajar SMA Islam IC Baitul Izzah turut tampil membentangkan makalah. Bagi mereka, ini bukan hanya kesempatan akademik, tetapi pengalaman berharga dalam membangun kepercayaan diri dan kompetensi ilmiah.

Hari Ketiga: Orasi Peradaban
Rangkaian seminar ditutup oleh orasi ilmiah Dr. Adian Husaini Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, yang menekankan urgensi mengintegrasikan iman dan ilmu dalam membangun masa depan umat. Diskusi yang berlangsung selama tiga hari ini melahirkan banyak gagasan, sekaligus mempererat jejaring akademik antarlembaga.
Refleksi Guru Pendamping
Ustadz Arif selaku pendamping rombongan pelajar SMA Islam IC Baitul ‘Izzah menyampaikan bahwa rihlah ini memberi dampak signifikan pada perkembangan akademik siswa. “Rihlah ini membuka wawasan mereka. Para siswa melihat bagaimana atmosfer akademik internasional bekerja dan menyadari bahwa budaya ilmu selalu berangkat dari adab dan kesungguhan.”

Menutup Perjalanan, Membuka Ruang Baru
Pada 20 November, rombongan kembali ke Indonesia dengan membawa pengalaman yang tak ternilai. Mereka pulang dengan wawasan yang lebih luas, pemahaman yang lebih dalam, serta motivasi untuk terus menulis, meneliti, dan berkarya. Rihlah Ilmiah Malaysia 2025 bukan hanya perjalanan keluar negeri, tetapi perjalanan menuju kedewasaan intelektual—sebuah langkah penting bagi generasi muda yang kelak akan memikul amanah peradaban.



