RIHLAH ILMIAH MALAYSIA 2025: PELAJAR SMA ISLAM INSAN CENDEKIA BAITUL IZZAH MENJELAJAH JEJAK ILMU DI NEGERI JIRAN

Suatu pagi di bulan November, barisan siswa SMA Islam Insan Cendekia Baitul Izzah berdiri rapi di Bandara Internasional Juanda. Wajah-wajah muda itu tampak antusias sekaligus penasaran. Mereka akan terbang ke Malaysia untuk mengikuti Rihlah Ilmiah 2025—sebuah perjalanan akademik yang dirancang bukan hanya untuk memperluas wawasan, tetapi juga menanamkan adab dan budaya ilmu sebagai fondasi pembentukan karakter pelajar muslim.

Selama 10 hari, 10–20 November 2025, para siswa menelusuri institusi pendidikan, mendengarkan kuliah pakar, mempresentasikan makalah, hingga berdialog dengan para ilmuwan lintas negara. Semua dirangkai dalam satu perjalanan yang penuh makna: belajar langsung dari mata air peradaban.

Balai Jawi: Gerbang Memasuki Budaya Ilmu

Rihlah dimulai dengan welcoming dinner di Balai Jawi, sebuah bangunan yang memadukan estetika Melayu tradisional dengan suasana intelektual yang hangat. Di tempat ini, para siswa merasakan untuk pertama kalinya atmosfer pendidikan yang menjunjung tinggi kesantunan, penghormatan, dan adab. Suasana makan malam itu seakan menjadi pengantar bagi pesan besar yang akan mereka temui sepanjang rihlah: bahwa perjalanan menuntut ilmu selalu bermula dari kerendahan hati.

Belajar dari Sang Cendekia: Kuliah Prof. Wan Mohd Nor

Hari kedua menjadi pengalaman tak terlupakan. Para siswa berkesempatan mendengarkan langsung kuliah dari Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Beliau adalah seorang akademikus, aktivis dan penulis asal Malaysia. Ia merupakan salah satu pendiri dari Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) dan pernah menjabat sebagai Wakil Direktur. Prof. Wan juga pernah menduduki jabatan penting di beberapa organisasi keislaman di Malaysia. Dalam paparannya, Prof. Wan mengingatkan bahwa kemajuan peradaban tidak mungkin tercapai tanpa integrasi antara ilmu, adab, dan pandangan hidup yang benar.

Nada suara beliau tenang, namun pesannya kuat. Di ruangan itu, para pelajar menyadari bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang dikumpulkan, tetapi cahaya yang membimbing perjalanan manusia. Sesi ini dilanjutkan dengan Bentang Makalah Sesi 1, yang memberi gambaran nyata tentang bagaimana pelajar dari berbagai institusi berlatih menyajikan gagasan ilmiah secara sistematis. Pada kesempatan ini salah satu pelajar SMA Islam Insan Cendekia Baitul ‘Izzqh berkesempatan tampil mempresentasikan makalahnya.

Bahasa Melayu, Kebangkitan Umat, dan Pesona Putrajaya

Hari berikutnya, para siswa belajar tentang peranan penting Bahasa Melayu dalam kebangkitan peradaban di Nusantara. Kuliah di Akademi Jawi tersebut membuka pemahaman bahwa bahasa adalah pilar identitas dan media penyampai ilmu selama berabad-abad. Usai kuliah, para peserta mengunjungi Putrajaya. Sebagai Kota pemerintahan, Putrajaya  ini memadukan estetika modern dan arsitektur bercorak Islam. Masjid Putra yang ikonik menjadi tempat refleksi bahwa keindahan dan kemajuan dapat berdiri seiring, selama berlandaskan nilai-nilai mulia.

Menyusuri Ruang-Ruang Keilmuan: ISTAC (Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam) dan IIUM (International Islamic University Malaysia)

Rangkaian rihlah berlanjut ke ISTAC, pusat kajian peradaban Islam yang terkenal dengan perpustakaan megah dan suasananya yang tenang. Di sini para siswa melihat langsung bagaimana riset ilmiah dirawat dan dikembangkan dalam tradisi akademik Malaysia.

Kunjungan ke International Islamic University Malaysia (IIUM) juga memberikan pengalaman penting. Kuliah dari Dr. Alwi Alatas, Dr. Nirwan Syafrin, dan Prof. Kabuye mengajak peserta memahami peradaban Islam dalam konteks sejarah dan tantangan kontemporer.

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *