Dalam perjalanan menuju Denpasar, sambil menunggu kedatangan pesawat yang hendak saya tumpangi dengan kode penerbangan QG 668, saya memutuskan untuk mengisi perut yang kelaparan. Tadinya saya hendak membeli beberapa cookies atau sekedar ice cream, mengingat tidak ada makanan murah di bandara. Tapi, batin saya menuntut berbeda. Perut saya yang ndeso ini, kalau lapar dan makan ya kudu makan nasi!

Akhirnya saya berjalan pelahan menyusuri sepanjang Lorong gerbang (gates) 4 – 5. Disisi sebelah kiri setelah saya melewati skrining barang bawaan yang akan masuk kabin, mata saya tertumbuk pada Bakmi Gocit. Gambar berbagai menu didalam neon box membuat saya langsung belok kiri dan masuk untuk membuat pesanan. Saya lihat pengunjung ramai dating silih berganti. Semuanya memesan bakmi sebagai main course, makanan utama nya. Kelihatan para pengunjung sangat menikmati bakmi dan minuman yang beraneka macam yang mereka pesan,
Saya sendiri tidak memesan bakmi yang sudah ada sejak tahun 1983 yang didirikan oleh Bapak Budi ini. Saya memang tidak pernah menyukai makanan yang berjenis mbulet ini. Bagi saya makanan mi selalu mengingatkan saya pada kerumunan cacing cantik berwarna kuning keputihan yang sedang mengggeliat kan badannya yang indah untuk menggaet lawan jenisnya. Tapi para pengunjung tersebut memang nampak sekali mereka menikmati sajian makanan berjenis mbulet nan enak dan menawan tampilannya.



