Jembatani Budaya Lewat Youth for Impact, Mahasiswa Australia Mengajar di SDIT Baitul ‘Izzah Nganjuk

NGANJUK – Suasana belajar di SDIT Baitul ‘Izzah Nganjuk terasa berbeda pada pekan pertama Januari 2026. Gelak tawa dan sorot mata penuh antusias tampak memenuhi ruang-ruang kelas saat seorang pemuda asing menyapa para siswa dengan senyum ramah dan sapaan berbahasa Inggris. Dialah Hamza Sajid, relawan internasional yang hadir melalui program Youth for Impact.

Kehadiran Hamza merupakan bagian dari program Youth for Impact yang digagas oleh AIESEC, organisasi kepemudaan internasional yang dikenal aktif mendorong pengembangan kepemimpinan dan kontribusi sosial lintas negara. Program ini bertujuan menghadirkan pemuda global untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta nilai-nilai positif sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Program ini terlaksana berkat kerja sama antara Lembaga Pendidikan Baitul ‘Izzah dengan T2EDI, yang berperan sebagai penghubung dengan AIESEC Universitas Brawijaya Malang. Kolaborasi ini membuka ruang perjumpaan budaya sekaligus pengalaman belajar global bagi siswa sejak usia dini.

Hamza Sajid sendiri bukanlah relawan biasa. Ia merupakan mahasiswa Sarjana Teknik di Murdoch University, Perth, Australia, kelahiran Pakistan dan berdomisili di Singapura. Menariknya, sebelum menempuh studi di Australia, Hamza pernah berpengalaman profesional sebagai Petugas Penjaga Pantai di Singapore Police Force, sebuah latar belakang disiplin dan kepemimpinan yang turut ia bagikan kepada para siswa.

Selama menjalankan program di Baitul ‘Izzah, Hamza terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan. Ia mengajak siswa belajar bahasa Inggris melalui berbagi pengalaman pribadi, cerita lintas budaya, permainan interaktif, serta dialog sederhana yang mendorong keberanian berbicara. Metode ini membuat suasana kelas hidup dan membangun kedekatan emosional antara relawan dan murid.

Keunikan lain dari program ini terletak pada pengalaman budaya yang dijalani Hamza di luar kelas. Selama di Nganjuk, ia tinggal bersama host family yang merupakan bagian dari keluarga besar Baitul ‘Izzah sekaligus wali murid unit SD dan SMP. Tinggal bersama keluarga lokal membuat Hamza merasakan langsung keramahan masyarakat Indonesia, nilai kekeluargaan, serta kehidupan sehari-hari yang sarat kearifan lokal. Interaksi ini tidak hanya memperkaya pengalamannya, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara relawan dan komunitas sekolah.

Di balik keaktifannya di kelas, Hamza mengakui sempat merasa gugup pada hari pertama mengajar.

“I’ll be honest, I was quite nervous since it’s my first official teaching experience, especially with primary school kids,” ungkapnya.

Namun kegugupan itu perlahan sirna berkat sambutan hangat para guru, keakraban host family, dan keceriaan siswa SDIT Baitul ‘Izzah. Lingkungan sekolah yang ramah dan suportif membuat Hamza semakin percaya diri dan menikmati setiap sesi pembelajaran.

Bagi para siswa, kehadiran Hamza menjadi pengalaman berharga. Mereka terlihat lebih berani mempraktikkan bahasa Inggris secara langsung dengan penutur asing.

“The students are very cheerful. They aren’t afraid of making mistakes and are actually eager to speak English,” tambah Hamza dengan antusias.

Dari perspektif Lembaga Pendidikan Baitul ‘Izzah, program Youth for Impact diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperluas wawasan global peserta didik tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan karakter lokal. Pihak lembaga memandang kegiatan ini bukan sekadar program kunjungan relawan, melainkan media pembelajaran karakter, toleransi, keberanian berkomunikasi, serta penguatan literasi global bagi siswa.

Ke depan, Baitul ‘Izzah berharap program serupa dapat terus berlanjut dan dikembangkan, baik dalam bentuk pertukaran budaya, kolaborasi pendidikan internasional, maupun penguatan kompetensi abad ke-21. Dengan menghadirkan pengalaman belajar lintas budaya sejak dini, lembaga berharap lahir generasi yang percaya diri, berwawasan global, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan. Melalui Youth for Impact, Baitul ‘Izzah tidak hanya menghadirkan relawan internasional ke ruang kelas, tetapi juga membuka jendela dunia bagi para siswa—sebuah langkah kecil yang diharapkan memberi dampak besar bagi masa depan mereka

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *