Waktu baca: 3 menit
Reaksi terhadap demonstrasi di KOMDIGI, senin 12 Januari 2026.
Tidak semua tawa lahir dari kecerdasan.
Sebagian justru tumbuh dari kelupaan—atau dari keengganan untuk peduli.
Saya tidak menolak humor. Saya juga tidak anti kritik. Namun saya resah ketika kata-kata kasar, baik yang bersumber dari konteks lokal maupun global, diangkat ke ruang publik lalu dilegitimasi melalui tawa massal. Seolah-olah, begitu penonton tertawa, batas rasa, ingatan, dan empati tak lagi relevan.
Dalam sebuah pertunjukan komedi yang saya tonton Mens Rea di platform Netflix, identitas etnis China disebut berulang-ulang dan ucapan bismillahirohman nirrohim sebagai bahan kelakar. Bagi sebagian orang, mungkin itu sekadar candaan. Namun bagi saya, kata-kata semacam itu tidak pernah sepenuhnya lucu tapi justru konyol dan bodoh! Kekonyolan dan kebodohan yang menunjukkan generasi si Komika dan penontonya berada dalam satu frekuensi. Para Komika ini mungkin lupa ada jejak sejarah. Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo bukan kisah yang pantas dipendekkan menjadi lelucon. Luka kolektif tentang bangsa yang terkoyak karena SARA tidak serta-merta hilang hanya karena zaman berubah.
Ketidaknyamanan itu berlanjut ketika umpatan vulgar dilontarkan dengan lantang. Penyebutan alat genital pria k***** oleh Sang Komika Pembuka, makian kasar, hingga umpatan global f*** yang sudah jamak dipahami maknanya dilepas begitu saja oleh Sang Komika utama: Panji. Penonton tertawa terbahak-bahak. Tidak ada jeda. Tidak ada keganjilan. Kesaruan seolah sah karena dibungkus komedi. Saya jadi curiga, Boleh dong, siapa atau pihak mana yang dibalik layarnya para komika ini… si Panji keprucut menyebut majalah Tempo dan dengan bangganya meski hanya tipis disebut bahwatinggal di New York. Hmmm … .
Di titik ini, saya berhenti tertawa. Saya menganggukkan kepala memahami mengapa ada sebagian kecil warga yang turun ke jalan mendemo, memprotes Kementrian KOMDIGI yang nilai rasanya tak tersentuh terhadap keganjilan bahasa yang terpampang di hadapan media!
Bukan karena saya kaku atau menolak kebebasan berekspresi. Melainkan karena saya percaya: bahasa bukan sekadar bunyi. Ia membawa nilai, ingatan kolektif, dan tanggung jawab sosial. Ketika kesaruan dinormalkan lewat tawa, kita sedang membangun kebiasaan baru—bahwa semua hal boleh diucapkan, asal mengundang gelak.
Komedi seharusnya menggugah, bukan sekadar meledakkan tawa. Ia bisa kritis tanpa harus merendahkan. Bebas tanpa harus mengorbankan empati. Humor yang cerdas justru tahu kapan harus berhenti. Tapi saat ini, kepekaan sosial kita sedang mati suri!
Jika hari ini batas rasa dianggap kuno, barangkali yang sedang tumbuh bukan sekadar selera humor baru, melainkan cara pandang yang makin permisif: lantang, bebas, dan menghibur—namun kerap lupa pada luka yang pernah ada. Sekali lagi, saya memilih diam. Tidak ikut tertawa. Karena, tertawa dengan abai terhadap rasa adalah bentuk kebiadaban dalam berbahasa. Dan, itu jelas bukan saya! Ini kata saya... Panji si Mhens Rea


