PAK DHONA, MERAWAT BAHASA LEWAT PRESTASI PARA MURIDNYA

Riwayat Organisasi
Bagi Pak Dhona, bangku kuliah bukan sekadar ruang menuntut ilmu. Ia menjadikannya laboratorium kehidupan. Di sanalah ia belajar memimpin, mendengar, berdialog, sekaligus memperjuangkan gagasan. Amanah sebagai Koordinator Bidang Politik GMNI Komisariat Universitas Negeri Malang, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Sosial dan Budaya Pengurus Pusat IMABSII, serta berbagai posisi kepemimpinan di organisasi mahasiswa tingkat jurusan dan fakultas membentuk kepekaan sosial sekaligus kedewasaan berpikir. Dedikasinya bahkan mengantarkannya menjadi penerima Beasiswa Aktivis Kampus Universitas Negeri Malang. Hari ini, seluruh pengalaman itu menemukan rumahnya di SMA Negeri 2 Nganjuk. Sebagai Guru Bahasa Indonesia, Pak Pak Dhona meyakini bahwa bahasa bukan sekadar mata pelajaran, melainkan jalan untuk membangun karakter. Sejak 2021 ia membina FORMADA, mendampingi lahirnya berbagai prestasi siswa dalam bidang jurnalistik, fotografi, videografi, hingga debat. Baginya, setiap anak menyimpan cerita yang layak diberi ruang untuk tumbuh.

Komitmennya terhadap pendidikan juga diwujudkan melalui kiprahnya sebagai Pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Nganjuk sejak 2024 serta Koordinator Student Achievement Center (SAC) Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Nganjuk bidang Lomba Debat Bahasa Indonesia. Baginya, prestasi bukan sekadar piala, melainkan keberanian peserta didik untuk berpikir jernih, berbicara santun, dan mempertanggungjawabkan gagasannya.

Di balik berbagai amanah yang diembannya,Pria kelahiran 32 tahun silam ini tetap memilih berjalan tanpa banyak gaduh. Ia lebih percaya pada kekuatan keteladanan daripada popularitas, pada proses daripada pujian, dan pada karya daripada pencitraan. Sebab seorang pendidik tidak diingat karena seberapa sering namanya disebut, melainkan karena seberapa lama nilainilai yang ditanamkannya, hidup dalam diri murid-muridnya.

Seperti ungkapan yang kerap dikaitkan dengan Pramoedya Ananta Toer, “Hidup sederhana, tetapi berpikir dan berkarya secara luar biasa.” Mungkin begitulah cara Pak Dhona, pria gesit yang menikahi teman sekelasna waktu kuliah dan berputri sat orang ini memaknai pengabdian sebagai: bekerja dalam kesunyian, merawat kata-kata, lalu membiarkan manfaatnya berbicara jauh melampaui dirinya.

Keren yaa lurr

SSC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *