Dalam kajian tersebut, ia juga menyoroti pentingnya adab orang tua kepada guru. Sikap hormat, kepercayaan, dan komunikasi yang baik akan membentuk persepsi positif anak terhadap sekolah dan pendidik. Guru, menurutnya, adalah mitra orang tua dalam mendidik, bukan semata pihak yang dituntut hasilnya.
Suasana kajian berlangsung tertib, tenang, dan penuh perenungan. Aula dipenuhi orang tua yang menyimak dengan serius, mencatat, dan merenungi pesan-pesan tarbiyah yang disampaikan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa mendidik anak tidak cukup dengan mengevaluasi hasil, tetapi harus dimulai dari membenahi proses dan peran orang tua.
Setelah kajian dan doa penutup, barulah kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan rapor peserta didik di masing-masing unit pendidikan, mulai dari KB–TK Islam Terpadu Baitul ‘Izzah, SDIT Baitul ‘Izzah, SMP Islam Baitul ‘Izzah, hingga SMA Insan Cendekia Baitul ‘Izzah. Pengambilan rapor berlangsung secara tertib dan kondusif, diiringi suasana silaturahmi antara orang tua dan pihak sekolah.
Melalui kajian tarbiyah ini, YPI Baitul ‘Izzah menegaskan komitmennya bahwa rapor bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari proses pendidikan yang melibatkan rumah, sekolah, dan keteladanan orang tua. Kajian tarbiyah keluarga menjadi ikhtiar berkelanjutan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu.
YPI Baitul ‘Izzah berharap, sinergi antara sekolah dan keluarga semakin kuat dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga beradab, berakhlak Islami, dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tradisi ini diharapkan terus menjadi ciri khas pendidikan Baitul ‘Izzah—mendidik anak dengan terlebih dahulu membina orang tuanya.


